iklan test

Senin, Januari 16, 2006

Skala ekonomi, dicari atau ditunggu?

Alkisah ada dua buah pabrik sepatu, AdiNdas dan Roobek. Keduanya memiliki seorang salesman, si Fulan bekerja di AdiNdas dan si Falun di Roobek. Kedua pabrik ini bersaing dalam segala hal, termasuk ketika keduanya berusaha memperlebar usahanya. Dalam suasana persaingan itulah kedua pabrik ini mengutus keduanya ke negara dunia ketiga, Papini. Maka berangkatlah kedua salesman tersebut kenegara Papini. Setibanya disana, keduanya di hadapkan pada kenyataan. Ternyata negara Papini adalah sebuah negara yang sangat tertinggal dalam segala hal, bahkan penduduk negara tersebut kecuali pejabat negara, tidak menggunakan alas kaki.

20 tahun kemudian sejak kedatangan kedua salesman tersebut, kedua pabrik tersebut masih dalam suasana bersaing, namun pada saat itu sudah ketahuan siapa yang lebih unggul, yaitu Roobek. Mengapa hal ini terjadi?

Rupanya hal tersebut diakibatkan hal yang sederhana namun berakibat besar di kemudian hari. Si Fulan, sang Salesman dari Adindas ketika pulang dari Papini berkata ke Pihak Manajemen: “Percuma kita jualan di Papini, selain miskin. Mayoritas penduduk tidak menggunakan sepatu, buat apa kita jauh-jauh datang kesana hanya untuk jualan sepatu kita ke segelintir Pejabat Papini? Sudah ongkos kirim kesana mahal, tidak ada transportasi etc..etc..etc.” Bagaimana dengan si Falun? Kebalikan dengan si Fulan, dia melaporkan ke Manajemen bahwa di Papini mereka punya pasar yang luas, terbuka dan BELUM ada yang garap. Kita perlu bekerja keras, tapi dengan optimisme, kita akan bisa menguasai pasar disana” dan sekian tahun sejak kedatangan si Falun, Roobek telah membangun pabrik di Papini dengan konsesi yang besar dari Pemerintahan setempat karena mereka telah memberikan manfaat dalam memberikan tenaga kerja bagi negara tersebut, selain itu, murahnya ongkos produksi membuat produk Roobek menguasai pasar di negara lain.


Cara kita menghadapi sebuah kondisi sangat berpengaruh terhadap masa depan.

Kembali ke pembangunan internet Indonesia, prinsip yang samalah yang harus kita kembangkan. Sayang sekali, di negara ini bukannya si Falun mendapatkan penghargaan dengan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan penetrasi internet, malah kita asik membuat si Falun menderita. Ketika rakyat negara tetangga kita telah menikmati koneksi tak terbatas dari internet bandwidth lebar seharga Rp 150.000/bln, kita cuma bisa mengelus dada dengan membayar minimal Rp 300.000/bln dan dibatasi cuma bisa maksimal 750MB dan jika lebih silahkan merogoh kocek lebih dalam. Beberapa orang yang saya kenal malah mengeluarkan biaya lebih dari 1 juta/bln untuk membiayai akses internet mereka.

Apa yang membuat tetangga-tetangga kita bisa menikmati hal tersebut? Apakah skala ekonomi mereka lebih besar dari kita? Apakah negara mereka sudah menjadi pusat internet atau lebih dekat ke Amerika sang pusat internet? Dari sisi skala ekonomi tidak mungkin mereka melebihi kita dan mereka juga jauh dari Amerika. Tapi yang Mereka miliki adalah: Pemerintah yang mau memberikan kemajuan untuk rakyatnya. Pemerintah yang sadar bahwa untuk bersaing di dunia saat ini rakyat yang pintarlah jawabnya. Bukan rakyat yang bisa di bodoh-bodohi terus menerus.

Kita cuma punya satu cerita sukses yang terus menerus diulang ulang sehingga terasa lebih sebagai propaganda, negara pertama yang memiliki satelit di Asia. Setelah itu? Maaf, cuma kisah suram. Kisah bagaimana susahnya mengakses telekomunikasi yang bagus dan terjangkau, kisah bagaimana orang orang yang memanfaatkan teknologi untuk memurahkan akses malah di sebut pencuri pulsa,, semrawutnya KSO, kisah bagaimana komunitas harus berjuang untuk mendapatkan frekuensi yang bebas digunakan.

Ironis sekali.

4 komentar:

Oskar Syahbana mengatakan...

Kayaknya akan menjadi useless kalau kita memaksakan diri tergantung pada pemerintah. Kalau kita mau berkaca pada India, bukan pemerintahnya lah yang membuat negara itu maju, tetapi keuletan rakyatnya untuk tetap berusaha menjadi lebih baik di tengah - tengah keterpurukan ekonomi negaranya.

Bahkan sekarang pun India itu sebagian besar rakyatnya lebih miskin dibandingkan sebagian besar rakyat Indonesia, pemerintahnya pun sama terkenalnya dengan korupsi (walaupun tidak separah Indonesia mungkin).

Intinya sih mental rakyatnya aja. Jangan terlalu bermanja - manja, apalagi mengharapkan pemerintah. Useless.

rendy mengatakan...

Kalau menurut saya, lebih baik swadaya, seperti jaman dulu waktu OWP masih semangat gembar-gembor tentang RT-RW netnya.

Di Bandung sudah ada 2 perusahaan besar yang bermain di RT-RW net, Rad.Net dan Quasar, tetapi harga dan kualitas belum terjangkau. Dulu proyek seperti itu pula pernah dibikin oleh dinas pendidikan Bandung, namanya WAN-DPKB, untuk menghubungkan antar sekolah, sayangnya proyek ini rawan korupsi.
untungnya pentolannya sudah disidang sekitar 6 bulan lalu.

saya pikir blogger seharusnya merakyat dan turut membantu menyuarakan mengenai hal internet murah, bukankah jumlah blogger indonesia saat ini sudah cukup banyak ?

Irwin Day mengatakan...

Saya sih setuju dengan pendapat bahwa kita harus mandiri atau swadaya, inti dari tulisan saya adalah: Pemerintah kalo memang nggak bisa membantu maka jangan di"ganggu" atau berikan saja iklim yang kondusif untuk perkembangan swasta. Sekarang kan aturannya sangat mengekang dan berbiaya tinggi, akibatnya para entrepreneur kita tertatih tatih dan perkembangan dunia internet juga tertinggal dari negara negara tetangga kita.

Kita bisa lebih maju lagi kok, bukan bantuan uang yang kita perlukan, tapi aturan yang mendukung perkembangan, ini kan belum apa apa sudah di hadang sana sini.

Syafrudin mengatakan...

Skala ekonomi untuk TI sebetulnya sudah ada, kan penduduk kita sekitar dua ratusan juta. Yang perlu menurut saya kreativitas kita. Misalnya, dari dua ratusan juta tadi, 15% buta huruf, berarti, sisa 85% atau 170 juta. Dari ini anggap saja 5% senang baca, ini sudah berarti 8.5 juta. Membangun akses internet online untuk 8.5 juta memang berat. Tapi bagaimana kalau kita berbicara offline internet ? Maksud saya kita perbanyak warung informasi di setiap desa, tapi tidak perlu punya sambungan internet. Informasi dari internetnya datang dari kota lewat CD, alias offline, dikirim secara berkala lewat kurir, lalu di-upload ke server. Isi CD ya tergantung kebutuhan desa tersebut. Email juga mirip, queue email disimpan ke media CDRW misalnya, lalu dibawa ke kota, baru diteruskan ke internet, dan sebaliknya.