iklan test

Jumat, Januari 19, 2007

Teori Paman Gober

Alkisah si tokoh yang telah kita kenal baik: Donal Bebek, berniat untuk menjadi seorang pengusaha bunga. Alasan Donal untuk menjadi pengusaha bunga sederhana, dia memiliki tipe bunga yang bagus dan semua yang kerabat terdekatnya seperti Desi bebek sang kekasih, Kwik Kwek dan Kwak sang ponakan dan Professor Lang Ling Lung sang penemu bibit bunga sangat mendukungnya.

Agar cepat laku maka Donal menjual bunga tersebut dengan harga murah dan bungkus seadanya dan menjualnya di pinggir jalan. Namun, walau dengan harga 1000 perak/ikat ternyata bunga-bunga tersebut tidak laku. Sehingga setelah sekian lama berjualan Donal mulai merasa frustasi dan pergi meminta tolong ke kerabat terdekatnya: Paman Gober.

Si Paman, seorang bisnisman yang berhasil mempelajari kisah Donal dan sambil tersenyum dia berkata: "Donal, aku beli semua bungamu dengan harga yang kamu jual sekarang". Donal terperangah dan curiga, apa yang ada di benak Paman ku ini? Tapi, bayangan kerugian yang membayanginya membuatnya tidak ada pilihan lain.

Apa yang Paman Gober lakukan? Sederhana. Semua bunga tersebut dia bungkus dengan baik. Kemudian dibawanya ke Mall, diberinya merek yang bagus dan menjualnya dengan harga 100ribu perak. 10x lebih mahal daripada harga aslinya. Dan ternyata bunganya laku keras.

Dengan tersenyum, sang Paman menasehati keponakannya: Donal, kalau kamu menjual dengan harga murah tidak laku, cobalah kamu jual dengan harga mahal.

Kisah Donal bebek berjualan bunga ini saya baca ketika saya masih SD dan sangat membekas di ingatan saya. Ketika bertemu dengan komunitas Open Source di kantor Menristek, saya juga memberikan pandangan (yang entah diperhatikan atau tidak hehehehe) bahwa komunitas ini harusnya bilang bahwa harga mereka tidak murah :) karena di pandangan Pemerintah harga murah itu "tidak menarik". Seandainya kita berkata biaya migrasi dari ilegal ke Legal menggunakan Open Source juga sekitar 400M, sepertinya MOU tersebut akan hilang dengan sendirinya :)

Dari diskusi dengan orang orang bisnis, saya juga mendapatkan pandangan yang sama: mereka semua pesimis jika penghematan anggaran dan efisiensi diberikan sebagai alasan untuk Pemerintah. "Pemerintah tidak berpikir untuk efisien kok" kata mereka.

Karena itu: saran saya untuk para Pejuang Open Source, mari kita jual mahal, karena kalau di jual murah tidak akan dilirik :)


9 komentar:

Anonim mengatakan...

Kalau harga tidak murah, ya mendingan pakai yg bukan open source asal ada supportnya.

Lisa mengatakan...

Mindset rata2 orang kita dan pada kenyataannya memang sering benar; barang bagus - harga mahal, barang murah - kualitas jelek. :-?

Anonim mengatakan...

kata teman seprofesi saya "murah njaluk selamat" :p

DiN mengatakan...

"... Karena itu: saran saya untuk para Pejuang Open Source, mari kita jual mahal, karena kalau di jual murah tidak akan dilirik :)"

Jangan lupa, bahwa Paman Gober selain memasang harga yang pantas juga mengemas jualannya dengan baik.

Muhammad Rivai mengatakan...

Sepertinya orang tipikal orang Indonesia (tentu tidak semua dan mudah-mudahan tidak benar)memang demikian. Pingin enak tapi gak mau bayar sesuai.

Kalau dibilang Linux jelek karena murah (gratis malah), sumpeh deh, saya yakin ybs belum pernah coba Linux :-).

BTW, #Din
Mungkin M$ sebagai analogi anda mengemas jualannya dengan baik, tapi cerita Gober Bebek yang dimaksud Iwin ini benar-benar tidak ada beda. Saya pernah baca majalah ini waktu SMP dan memang bedanya hanya pada keyakinan.

Donald kan tipikalnya miskin, jadi keinginannya-pun nggak muluk-muluk. Beda dengan Gober.

Meski demikian, saran & komentar yang masuk ini bisa dimanfaatkan, mas Iwin, dalam arti, stereotip orang Indonesia terhadap Open Source dan Linux umumnya demikian, maka tak heran kalau Menkominfo mendapat informasi yang kurang pas, lain dengan Menristek Pak KK yang memang sudah terbiasa.

PR buat komunitas Open Source, mari kemas jualan kita dengan professional.

DiN mengatakan...

"Kemasan" yang menjadi kekuatan dan daya tarik FLOSS, dalam interpretasi saya, ada pada nilai kebebasan yang dimilikinya. Bebas bukan berarti gratis.

Kampanye open source kepada pemerintah (mudah-mudahan sudah) menurut saya harus selalu menekankan nilai kebebasan tersebut. Kita bisa ambil contoh keputusan Negara Belanda mengadopsi open source. Misalnya untuk format dokumen, mereka mengambil standar dokumen ISO untuk semua dokumen pemerintahan. ("Bagaimana Belanda Bisa 'Say Enough to Microsoft'?":http://ismailfahmi.org/wp/archives/120 )

Dan meskipun 'uang damai' tetap dibayarkan kepada M$ nantinya karena pemerintah selama bertahun-tahun telah menggunakan produknya, kita tetap perlu mendorong pemerintah membuat satu standar baku format dokumen di pemerintahan.

Setelah standar ini ditetapkan, entah M$ yang dipilih atau bukan, itu ditentukan dalam tender nanti. Tetapi yg penting harus dilakukan sistematis dan tidak terburu-buru, apalagi kalau sampai dirahasiakan.

Obyektif mengatakan...

Sebenarnya, yang dibutuhkan itu cuma support dan ada yang bisa bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa.

Perusahaan besar cenderung pakai proprietary karena kalau ada apa-apa bisa "nuntut" vendor.

Mereka umumnya tidak masalah membayar mahal untuk support.

Kata kuncinya di sini tanggung jawab.

Peluang untuk open source (terutama di Indonesia) masih terbuka lebar, asal ya itu tadi, bisa memberikan JAMINAN support yang bagus dan tanggung jawab. Walaupun membayar, perusahaan pasti berani pakai :)

ariefGaffar mengatakan...

Udah denger kalo ada pertemuan antara Menkominfo dengan temen-temen aktivis OSS ??

Wah kebetulan saya termasuk yang tidak begitu gembira dengan hasilnya..

Silahkan baca di:
http://ariefgaffar.wordpress.com/2007/01/21/mou-indonesia-dg-microsoft-kecewa-terhadap-pertemuan-aktivis-oss-dengan-menkominfo/

Salam

Irwin Day mengatakan...

Ijin menjelaskan dikit :) tulisan saya jangan di interpretasikan secara sempit pada nilai uang. Tapi prinsip disini adalah: Jika ada jaminan dan dukungan, maka orang tidak akan ragu memilih Free Open Source Software. Sebenarnya dari sisi pengguna (baik bisnis maupun goverment) , mereka tidak melihat apakah solusi tersebut Open Source atau Closed Source, percaya deh :) ini hasil diskusi saya dengan beberapa pelaku bisnis.

Jadi kemasan yang bagus seperti dalam teori Paman Gober, berarti "jaminan" & "dukungan". Inilah yang harus menjadi fokus utama orang orang Open Source. Jika berhasil mendapatkan "brand image" di sisi tersebut maka keberhasilan itu di depan mata.