iklan test

Rabu, Juni 14, 2006

Kesimpulan Nonton TV

Berhubung status saya saat ini pengacara ( pengangguran banyak acara ) jadinya saya punya banyak waktu untuk menonton TV. Nah kesimpulan saya setelah menonton sekian banyak stasiun TV adalah:
1. Stasiun TV kebanyakan cuma saling menjiplak model acara, satu buka kontes, semua bikin kontes. satu bikin lenong, semua ngelenong. Satu bikin Sipengembang (lihat no. 3) Mistis semua bikin.... ya beginilah kalau sejak masih sekolah di biasakan nyontek keliatan kok di dunia kerja, hoi rumah produksi, saya tahu kalian itu industri tapi bukan berarti mutu dikesampingkan, sadar gak sih produksi kalian itu menghina akal sehat?
2. Acara yang benar-benar bagus bisa di hitung jari.
3. Sebagian besar Sinetron lebih cocok di sebut Sipengembang ( Sinema Penghancuran dan Pembodohan Bangsa) :p
4. Infotainment lebih baik ganti nama menjadi TerrorTainment. Maaf, sekolahnya dimana sih yang buat acara-acara itu? Bikin malu guru-guru kalian saja. Gak mutu, isinya cuma sensasi, cerai, pacaran, selingkuh, anak haram.

Setelah kesimpulan yang berisi sumpah serapah di atas, maka saya mengusulkan sesuatu yang serius:

1. Jangan biarkan anak anak kita menonton acara tv tanpa ditemani, biarpun acaranya jelas jelas buat anak-anak.
2. Lebih baik matikan TV dan suruh anak-anak itu pergi main daripada nonton.
3. Sudah waktunya kita punya Lembaga Rating yang lebih fokus pada mutu acara dan acara-acara TV yang buruk harus publikasikan ke masyarakat dan di sarankan untuk tidak ditonton dan menyarankan pemasang iklan tidak memasang iklan pada acara-acara dengan cap buruk tersebut sehingga acara tersebut akan mati dengan sendirinya. Hai KPI!!! Buat dong Rating acara buruk dan baik, daripada cuma menegur, mendingan buat rating bulanan dan publikasikan rating tersebut.

10 komentar:

Affan mengatakan...

Solusi menjaga agar anak jangan keracunan TV :

1. Jangan punya TV
2. Kalau punya, dimasukin kotak, terus digembok (kayak TV jaman dulu yang ada kotak kayunya)

Tips menonton TV yang agak lumayan sehat :

1. Default deny, tonton yg kita mau saja, lainnya jangan ditonton
2. Kalau terpaksa nonton, TV nya di-mute

rara mengatakan...

alooooo
sesama blogger makassar :)

salam kenal yah!

rara mengatakan...

halah!

the world is so small!!
apa kabar awari? :D

ak mengatakan...

Sebenarnya bukan TVnya yang jelek. Materinya saja yang bermutu -terlalu- rendah. Sayang banget biaya dibuang-buang untuk menyiarkan dan membuat sinetron yang pada efek jauhnya bisa merusak pikiran.

Seperti makan makanan berkolesterol tinggi atau kue-kue-an. Awalnya enak, mau ambil lagi dan lagi. Tetapi saat kelebihan... jantung koroner dan diabetes. Nah loh.

john mengatakan...

nonton tipi? mending nonton spongebob pake dvd :P
bagaimana cara menghindarkan anak2 dari sipengembang? siapkan dvd/vcd player, sering-sering ke rental dan pinjem film anak2 yang bagus seperti barney, tweenies, dora, dan sejenisnya.. itung2 belajar bahasa inggris :D

Fajar mengatakan...

ck ck
serba 'sedih' memang jadi rakyat indonesia.
klo dibandingkan tv dengan warnet mgkn kita bisa bikin warnet yang bagus (content filter, no pornography, ada pelatihan internet, ndak sekedar bisnis etc), tp klo tipi..? ndak kuat modal euy...
moga aja suatu saat muncul stasuin tv yang benar-benar mengakomodasi kebutuhan pemirsa..

Thohir mengatakan...

Lam kenal pak iWin,

jadi ingat dengan ust.Faudzil Adhim yg sengaja tidak membeli TV, karena tidak mau anaknya diajar oleh TV namun diajar oleh buku.

Irwin Day mengatakan...

Untuk acara TV perlu ada kampanye supaya acara-acara yang jelek itu di publikasikan sehingga jika sudah ter"stigma" sebagai acara jelek, maka orang-orang juga akan terpengaruh untuk tidak menontonnya.

Bangsari mengatakan...

saya juga punya usul Mas: jangan beli tv, seperti saya. he..he..

Muhammad Davi mengatakan...

betul betul betul
meninggan nonton Upin Ipin aja :)