iklan test

Jumat, April 21, 2006

Dari Warnet ke Warnet :D

Selama seminggu di Jakarta, saya mencoba untuk mengunjungi beberapa warnet. Maklum aja, sebagai orang yang terjajah teknologi terutama teknologi internet :p warnet merupakan sarana yang paling pas untuk online selain dari rumah via telkomnet instan yang mahal itu :D

Dari beberapa warnet yang saya kunjungi, ada beberapa catatan yang saya beberkan di tulisan ini. Yang jelas ada warnet yang bagus, cukup bagus, hingga yang mengecewakan.

Warnet yang pertama saya kunjungi lokasinya di Radio Dalam, koneksinya menggunakan wireless dan bagus (baca: cepat) komputer juga bagus. Waktu saya menanyakan apakah saya bisa menggunakan notebook, si operator mengatakan tidak bisa. Saya melihat kebingungan sepersekian detik :p tapi dengan pandai dia mengatakan “tidak bisa mas, gak ada kabel yg tersedia” dan saya kira itu lebih baik daripada operator warnet berikut yang saya datangi esok harinya di daerah Ciputat / UIN yang membiarkan saya menunggu selama 5 menit hanya untuk menunggu seorang teknisi yang cuma bisa cengengesan dan mengatakan “tidak bisa” dan si operator hanya sibuk dengan layar chattingnya. Owner warnet, anda semuanya harus menegur dengan keras operator anda yang cuma sibuk chatting pada saat jam kerja.

Di warnet yang ketiga, sang operator memberikan kesempatan bagi saya untuk mencolokkan kabel UTP ke port LAN di notebook tapi sayang sekali…, si operator mengira cukup dengan mencolokkan kabel ke notebook maka semua bisa jalan. padahal saya masih memerlukan informasi IP address, gateway dan DNS :( dan setelah melihat sang operator tidak bisa membantu sama sekali, saya menyerah dan membuka terminal lain dan pada saat itu saya sadar jika koneksi internet lagi putus!!!!

Dengan putus asa, akhirnya saya menuju warnet teman saya sendiri di daerah Kelapa Dua (Depok). Disana tentu saja saya bisa menyambung notebook dengan lancar tanpa halangan, si owner juga tau informasi apa yang saya perlukan untuk setting tcp/ip pada notebook ( sejujurnya tetap saja saya menganggap dia perlu memasang servis DHCP daripada repot ngurusin IP Address untuk 30 PC ) apakah problem saya selesai? Ternyata belum. Dari warnet teman saya tersebut, saya tidak mem”POP” email maupun mengakses email saya via web. Saya cek dengan admin ISP di Makassar tidak ada masalah dengan email server dan web server mereka ( Sorry Dani, saya ngerepotin jam 4 pagi :D ) saya harus nyari proxy anonymous dulu untuk bisa mengakses via web. 3 POP mail saya tetap tidak bisa di akses.

Hari ini, saya jalan2 di Blok M Plaza dan melihat sebuah warnet di Mall tersebut. Isinya penuh, saya harus menunggu sebentar untuk mendapatkan tempat dan ketika mengklik “start” pada billing. surprise!!! it’s a Linux :D menyenangkan :) dan aksesnya cepat, saya mengakses email, yahoo mail, gmail, chatting sebentar dengan teman-teman di Makassar. tarifnya Rp 4000/30 menit. Mahal? Dengan kecepatan seperti ini, saya tidak merasa mahal sebab saya bisa mengecek ke tiga web mail dengan cepat dan tidak perlu menunggu lama sehingga 30 menit itu benar-benar efisien. Ketika mencoba bertanya ke Operator mengenai distro yang di gunakan, dia berkata bahwa mereka menggunakan berbagai distro ( ubuntu, Lex dll ).

Untuk warnetters ( warnet owner’s), apa yang saya tulis ini adalah pendapat pribadi yang tentu saja berdasarkan kebutuhan saya mengenai akses internet. Apakah semua user seperti saya? Sudah tentu tidak. Tapi saya kira catatan mengenai sikap, pelayanan dan pengetahuan Operator sangat mempengaruhi kepuasan user. di warnet yang kedua saya sangat kecewa karena di biarkan menunggu oleh operator yang tidak bisa memalingkan muka sedetik pun dari monitor. di warnet yang ketiga, walaupun kecewa tapi usaha sang operator untuk melayani saya sebaik mungkin cukup mengobati rasa kecewa dan saya akhirnya menyalahkan koneksi yang putus :p

Minggu, April 16, 2006

Ketika Kebijakan Memakan Pembuat Kebijakan

Hari ini saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan seorang perwira tinggi di ruang kerjanya. Kesempatan yang jarang. Dari perbincangan singkat itu, saya menangkap jika beliau mengerti benar bagaimana kecepatan memperoleh informasi sangat membantu tugas beliau dalam mengungkap kejahatan dan membekuk pelaku kejahatan istimewa/luar biasa.

Tapi catatan ini bukanlah mengenai hal itu. Dari perbincangan itu, saya menangkap kenyataan bahwa kebijaksanaan infrastruktur telekomunikasi data kita bukan hanya menyusahkan rakyat karena menghasilkan biaya yang (sangat) tinggi namun pada akhirnya memakan pihak pemerintah juga si pembuat kebijakan.

Mengapa saya katakan seperti itu? Begini, lembaga yang di kelola perwira tinggi tersebut ingin mengkoneksikan banyak titik penting yang perlu bagi kelancaran tugas lembaga tersebut. Tapi kelihatannya keinginan beliau terhalang oleh mahalnya biaya koneksi tersebut. Yang lebih menyedihkan adalah: ketika permintaan koneksi data tersebut adalah nyata untuk kepentingan negara dan isinya, tetap saja tidak ada solusi yang tersedia.

Mahalnya koneksi tersebut bahkan sudah sampai pada tahap yang membahayakan, karena yang terjadi adalah: Bahkan lembaga pemerintah pun akhirnya terbelenggu oleh mahalnya biaya komunikasi data, sehingga sebuah lembaga yang tugasnya (sangat) penting bagi negara ini harus “pontang panting” demi sebuah koneksi data.

Kebijaksanaan infrastruktur komunikasi data harus segera direvisi dan dipertimbangkan fungsinya bagi pencerdasan bangsa dan kepentingan negara lainnya. Menghambat komunikasi melalui biaya (sangat) mahal sama saja membiarkan bangsa ini tenggelam dalam keterbatasan informasi dan pada akhirnya menghalangi kemajuan dan kemampuan bangsa ini dalam menghadapi tantangan tantangan zaman dan masa depan demi sebuah angka keuntungan yang sebagian (besar?) malah jatuh ke pihak asing.

Jakarta, 14 April 2006

Jumat, Februari 24, 2006

My Ubuntu vs My Mandriva

Nah kali ini saya punya dua screen shots, yang satunya Ubuntu 5.10 satunya lagi Mandriva 2006. silahkan lihat

Rabu, Februari 01, 2006

Radio Laboratory Handbook free downloads

Radio Laboratory Handbook - Vol 1 Download

The Radio Laboratory Handbook - Vol 1 can be freely downloaded as pdf files in chapters or as a whole.

the link


Jumat, Januari 27, 2006

Town Search Results for Makassar

  • Name : Makassar (alias for Ujungpandang)
  • Region : Sulawesi Selatan
  • Latitude : -5.131
  • Longitude : 119.413
  • Elevation : 3 m



Senin, Januari 23, 2006

LTSP Series - Solusi Booting Harddisk

Mengaplikasikan LTSP memang menarik. Ide memanfaatkan komputer-komputer tua*) agar bisa berjalan dengan kecepatan komputer baru. Namun ada satu sisi halangan yang cukup mengganggu, yaitu tidak semua komputer tua dilengkapi dengan rom boot atau PXE dan terus terang, walaupun mudah mendownload ROM Image dari http://www.rom-o-matic.net namun sulit mendapatkan eeprom writer untuk menulis rom image tersebut ke chip rom.

Untuk mengatasi hal ini kita bisa melakukan booting via floppy atau hard disk, caranya dengan mendownload Floppy bootable rom image (*.zdsk) kemudian masukkan floppy disk yang sudah diformat ke drive dan ketik perintah:

$ cat nama-image-rom.zdsk > /dev/fd0

atau jika anda menggunakan DOS/Windows gunakan program RAWRITE untuk menuliskan rom boot image ke floppy disk.

Tapi menggunakan floppy pun ternyata masih ada problem tersendiri, yaitu hanya cocok pada saat percobaan dan tidak cocok untuk kondisi operasional sebab floppy disk dan floppy drive mudah rusak. Sehingga pilihan berikutnya adalah booting melalui harddisk. Untuk booting melalui harddisk ada beberapa hal yang harus di siapkan:
  • Koneksi Internet :)
  • LTSP Server ( tentu saja )
  • Thin Client dengan harddisk dan cd-drive
  • Damn Small Linux (DSL) LiveCd
catatan:
CD-Drive diperlukan hanya pada saat men-setup client saja, jika sudah selesai cd-drive bisa dilepas lagi dari thin client tersebut.

Mulailah dengan membooting DSL via cd-drive, saya biasanya sekaligus mencoba apakah perangkat seperti NIC, harddisk, dan VGA Card berfungsi dengan baik. Jika semuanya normal, jalankan terminal dan persiapkan harddisk dengan menuliskan "0" pada sector pertama pada harddisk dengan perintah:

# sudo su
# dd if=/dev/zero of=/dev/hda bs=1M count=5

menggunakan tool "cfdisk", partisi ulang harddisk tersebut. Kita hanya membutuhkan sebuah partisi sebesar 40kb :) setelah di partisi, format harddisk tersebut dengan perintah:

# mke2fs /dev/hda1

kemudian kaitkan partisi

# mkdir -p /mnt/hda1
# mount /dev/hda1 /mnt/hda1

Langkah berikut adalah mendownload LILO/GRUB/SYSLINUX loadable kernel format (.zlilo) dari http://www.rom-o-matic.net yang sesuai dengan NIC anda. Pada titik ini, sering terjadi kebingungan dalam memilih jenis rom boot image yang sesuai dengan NIC kita. Untuk mengetahui jenis NIC yang kita miliki bisa kita lakukan dengan memberikan perintah:

# lspci

perintah tersebut di komputer saya menghasilkan tampilan berikut:
.....
00:1f.6 Modem: Intel Corporation 82801DB/DBL/DBM (ICH4/ICH4-L/ICH4-M) AC'97 Modem Controller (rev 03)
01:01.0 Ethernet controller: Realtek Semiconductor Co., Ltd. RTL-8139/8139C/8139C+ (rev 10)
01:02.0 Ethernet controller: Linksys, A Division of Cisco Systems [AirConn] INPROCOMM IPN 2220 Wireless LAN Adapter (rev 01)
.....
perhatikan baris bertuliskan Ethernet controller, menunjukkan tipe NIC saya adalah RTL-8139 :) namun bagaimana memilih dari 14 jenis RTL-8139 yang ada? caranya dengan mencari PCI ID dari NIC tersebut. untuk mengetahuinya berikan perintah:

# lspci -n

perintah tersebut menghasilkan tampilan di bawah:
......
00:1f.6 Class 0703: 8086:24c6 (rev 03)
01:01.0 Class 0200: 10ec:8139 (rev 10)
01:02.0 Class 0200: 17fe:2220
.....

pada baris kedua, perhatikan angka hex 10ec:8139, inilah PCI ID dari NIC yang kita butuhkan. sehingga rom boot image yang kita ambil adalah: rtl8139:rtl8139 -- [0x10ec:0x8139], cara yang sama silahkan anda lakukan untuk NIC anda.

Setelah mendownload LILO/GRUB/SYSLINUX loadable kernel format (.zlilo), buatlah file lilo.conf di /mnt/hda1 yang isinya:

lba32
boot = /dev/hda
map = /mnt/hda1/.map
install = /mnt/hda1/boot-menu.b
image = /mnt/hda1/rom-image-yang-anda-download.zlilo
label=LTSP

kemudian lakukan perintah untuk menuliskan kode etherboot tersebut sebagai LILO image ke MBR dari harddisk:

# lilo -v -C /mnt/hda1/lilo.conf -s /mnt/hda1/backup

Setelah langkah ini silahkan restart untuk mencoba booting dari harddisk :)

diambil dari http://wiki.ltsp.org/twiki/bin/view/Ltsp/BootingFromHarddrive dan beberapa sumber lainnya termasuk pengalaman sendiri.
*) Komputer Tua = Sekelas Pentium I, II dan III. 486 juga bisa tapi terbentur pada keterbatasan perangkat seperti VGA Card.

Kamis, Januari 19, 2006

Saya tidak takut..

Saya tidak takut pada apa yang saya tahu...saya takut pada apa yang saya tidak tahu. Sayangnya, semakin banyak saya berusaha untuk tahu, semakin saya merasa tidak tahu apa apa. :-D

Rabu, Januari 18, 2006

Triple Boot Ubuntu, XP, 2003

PC saya di kampus lebih sering berperan sebagai tempat testing, di dalamnya terinstall XP dan Ubuntu Breezy. Dual boot untuk kedua OS ini tidak masalah, karena XP duluan di install dari Ubuntu. Masalah terjadi setelah saya dapat tugas untuk membuat Demo Remote Desktop menggunakan Windows Server 2003 (WS2003). Boot loader WS2003 yang di install akan menimpa boot loader Ubuntu (GRUB).

Baca selanjutnya ...

Senin, Januari 16, 2006

Skala ekonomi, dicari atau ditunggu?

Alkisah ada dua buah pabrik sepatu, AdiNdas dan Roobek. Keduanya memiliki seorang salesman, si Fulan bekerja di AdiNdas dan si Falun di Roobek. Kedua pabrik ini bersaing dalam segala hal, termasuk ketika keduanya berusaha memperlebar usahanya. Dalam suasana persaingan itulah kedua pabrik ini mengutus keduanya ke negara dunia ketiga, Papini. Maka berangkatlah kedua salesman tersebut kenegara Papini. Setibanya disana, keduanya di hadapkan pada kenyataan. Ternyata negara Papini adalah sebuah negara yang sangat tertinggal dalam segala hal, bahkan penduduk negara tersebut kecuali pejabat negara, tidak menggunakan alas kaki.

20 tahun kemudian sejak kedatangan kedua salesman tersebut, kedua pabrik tersebut masih dalam suasana bersaing, namun pada saat itu sudah ketahuan siapa yang lebih unggul, yaitu Roobek. Mengapa hal ini terjadi?

Rupanya hal tersebut diakibatkan hal yang sederhana namun berakibat besar di kemudian hari. Si Fulan, sang Salesman dari Adindas ketika pulang dari Papini berkata ke Pihak Manajemen: “Percuma kita jualan di Papini, selain miskin. Mayoritas penduduk tidak menggunakan sepatu, buat apa kita jauh-jauh datang kesana hanya untuk jualan sepatu kita ke segelintir Pejabat Papini? Sudah ongkos kirim kesana mahal, tidak ada transportasi etc..etc..etc.” Bagaimana dengan si Falun? Kebalikan dengan si Fulan, dia melaporkan ke Manajemen bahwa di Papini mereka punya pasar yang luas, terbuka dan BELUM ada yang garap. Kita perlu bekerja keras, tapi dengan optimisme, kita akan bisa menguasai pasar disana” dan sekian tahun sejak kedatangan si Falun, Roobek telah membangun pabrik di Papini dengan konsesi yang besar dari Pemerintahan setempat karena mereka telah memberikan manfaat dalam memberikan tenaga kerja bagi negara tersebut, selain itu, murahnya ongkos produksi membuat produk Roobek menguasai pasar di negara lain.


Cara kita menghadapi sebuah kondisi sangat berpengaruh terhadap masa depan.

Kembali ke pembangunan internet Indonesia, prinsip yang samalah yang harus kita kembangkan. Sayang sekali, di negara ini bukannya si Falun mendapatkan penghargaan dengan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan penetrasi internet, malah kita asik membuat si Falun menderita. Ketika rakyat negara tetangga kita telah menikmati koneksi tak terbatas dari internet bandwidth lebar seharga Rp 150.000/bln, kita cuma bisa mengelus dada dengan membayar minimal Rp 300.000/bln dan dibatasi cuma bisa maksimal 750MB dan jika lebih silahkan merogoh kocek lebih dalam. Beberapa orang yang saya kenal malah mengeluarkan biaya lebih dari 1 juta/bln untuk membiayai akses internet mereka.

Apa yang membuat tetangga-tetangga kita bisa menikmati hal tersebut? Apakah skala ekonomi mereka lebih besar dari kita? Apakah negara mereka sudah menjadi pusat internet atau lebih dekat ke Amerika sang pusat internet? Dari sisi skala ekonomi tidak mungkin mereka melebihi kita dan mereka juga jauh dari Amerika. Tapi yang Mereka miliki adalah: Pemerintah yang mau memberikan kemajuan untuk rakyatnya. Pemerintah yang sadar bahwa untuk bersaing di dunia saat ini rakyat yang pintarlah jawabnya. Bukan rakyat yang bisa di bodoh-bodohi terus menerus.

Kita cuma punya satu cerita sukses yang terus menerus diulang ulang sehingga terasa lebih sebagai propaganda, negara pertama yang memiliki satelit di Asia. Setelah itu? Maaf, cuma kisah suram. Kisah bagaimana susahnya mengakses telekomunikasi yang bagus dan terjangkau, kisah bagaimana orang orang yang memanfaatkan teknologi untuk memurahkan akses malah di sebut pencuri pulsa,, semrawutnya KSO, kisah bagaimana komunitas harus berjuang untuk mendapatkan frekuensi yang bebas digunakan.

Ironis sekali.

Sabtu, Januari 07, 2006

Mandriva ISO CD tips

Sebenarnya tips ini bisa untuk distro apa saja, bukan cuman buat mandriva saja, hanya kebetulan karena saya pengguna (setia) mandriva dari jaman kenal linux sampai sekarang :)

Tips ini digunakan pada cd image/iso file dengan memanfaatkan perintah mount. Awalnya karena saya suka menginstall dengan "newbie mode" alias tidak melakukan kustomisasi di awal installasi, jadi terserah distro saja. Nanti setelah selesai baru mulai saya mulai install sana install sini, un-install sana un-install sini :)).

Satu kali saya lupa cd installasi di rumah.

Untung saya ingat, kalau iso-nya installer di HardDisk belum di hapus. Jadinya saya lakukan adalah:

[root@sphinx irwin]# mount -o loop [..path]Mandriva-Linux-Free-2006-CD1.i586.iso /home/mdk2006/cd1/
[root@sphinx irwin]# mount -o loop [path]Mandriva-Linux-Free-2006-CD2.i586.iso /home/mdk2006/cd2/
[root@sphinx irwin]# mount -o loop [path]Mandriva-Linux-Free-2006-CD3.i586.iso /home/mdk2006/cd3/

kemudian jalankan software media manager, dan masukkan lah mounting path di atas ( /home/mdk2006/cd1 s/d cd3) ke daftar kustom source dan pilih local path. Jangan lupa non-aktifkan media source cd rom.

akan ada error ketika memasukkan kustom source tapi abaikan saja.

Pengembangan lebih lanjut, bisa saja path di atas kita masukkan ke konfigurasi ftp/http server sehingga kita bisa melakukan instalasi mandriva via lokal ftp/http.

Kamis, Desember 29, 2005

LTSP

Minggu ini aku beruntung, dapat pinjaman sebuah P4 3GHz, RAM 1GB , HDD SATA 200Gb. Sudah lama mau mengadakan percobaan apakah bisa kombinasi LTSP + Win2K melayani 15 PC di Lab. Kampus dengan baik. Sebenarnya kombinasi ini bukan hal baru tapi saya tidak berani mencobanya pada server operasional. Bisa pusing kalo ada apa apa :)
Di mesin tersebut aku install:
  • Win2K + Terminal Services
  • Ooo 2.0
  • Firefox
  • NetOp
  • Anti Virus
Distro yang digunakan adalah K12LTSP berbasis Fedora Core 3.

Hasil percobaan menunjukkan beban CPU tertinggi ( 100% ) terjadi pada saat 15 Firefox di launch bersamaan dan langsung membuka google :)) kondisi ini boleh dibilang jarang sekali terjadi. Yang menarik, memori 1GB tidak terpakai penuh walaupun Write di jalankan di semua terminal.

Kesimpulan:
  • Spek mesin di atas, ternyata cukup untuk melayani 15 terminal
  • Butuh 2 Server, 1 untuk LTSP - 1 untuk Win2K
  • Color depth 8 bit tidak masalah, toh Lab lebih banyak digunakan untuk belajar Programming.
  • Di hitung hitung, biayanya murah loh :))
Tapi, kalau mau yang mantap dan murah tentu cukup 1 Server saja: LTSP, color depth bisa 24 bit, no virus threat, no license to pay, no worry lah....

Rabu, Desember 28, 2005

PC Sampah vs Lingkungan Hidup

Di picu pemberitaan di kompas, berjudul Posisi Microsoft, milis awari dan telematika ramai lagi oleh diskusi mengenai PC Sampah vs Lingkungan hidup. Topik ini Selalu menarik. Setiap kubu memiliki alasannya masing masing. Pendukung PC Sampah beralasan kalo masih bisa digunakan dan murah kenapa tidak? Sedang dari sisi kubu Lingkungan Hidup mengatakan bahwa sekali sampah tetaplah sampah.

Tapi satu hal yang perlu di catat adalah: kubu lingkungan hidup selalu bisa memberikan referensi dan (banyak) link untuk memperkuat argumentasi bahwa memang berbahaya jika kita dijadikan tempat sampah besar dari PC Sampah ini. Sementara pendukung PC Sampah argumentasinya tidak lebih dari alasan-alasan bagus terdengar tapi tidak bisa memberikan referensi yang meyakinkan bahwa sudah ada negara yang berhasil dengan program PC Sampah ini.

Dari salah satu link, menjelaskan jika di tahun 1998 saja ada 20 juta PC "tua" di US. Bayangkan tahun 2005 :( . Tentu saja jika ada cara yang praktis membuang sampah ini mengapa tidak?

Apakah kita memang sudah begitu parah mentalnya sehingga tidak punya kemampuan untuk melihat masalah sebenarnya? masalahnya adalah bagaimana supaya rakyat negara ini di perbaiki kemampuan daya belinya sehingga mampu untuk membeli barang baru. Bukan SAMPAH.

Lebih lanjut baca saja link dibawah:

http://www.svtc.org/cleancc/pubs/sayno.htm
http://www.svtc.org/cleancc/pubs/harm.htm
http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/1839997.stm
http://www.informinc.org/fact_CWPcomputer.php
http://www.svtc.org/cleancc/pubs/technotrash.htm

Jumat, Desember 23, 2005

dari 18,5 juta ke 50 juta

Menurut laporan UNDP-APDIP, pengguna Internet di Indonesia ada 18,5 juta nomer 3 setelah China dan India. Dan yang menarik, menurut laporan tersebut biaya Internet di Indonesia nomer 1 tertinggi! 22,26 USD untuk 20 jam akses. Kondisi Geografis adalah faktor utama dari tingginya biaya ini. Bukanlah hal yang mudah untuk menyebarkan internet di 13.000 pulau.

Meskipun jumlah pengguna berada di atas Thailand yang pengguna Internetnya 6,9 juta tapi dari sisi total penggunaan bandwidth Internasional kita kalah jauh dari Thailand ( 573 Mbps banding 1437 Mbps ).

Laporan ini tidak di klaim sebagai laporan yang lengkap / komprehensif tapi paling tidak bisa di jadikan acuan untuk melihat kondisi per-internet-an di Indonesia.

Sekarang yang saya pikirkan, apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan angka 18,5 ke 50 juta dalam waktu 1-2 tahun ini? sekalian menurunkan angka 22,26 itu menjadi 5USD per 20 jam akses. Think again:
  • Wireless
  • Thin Client
  • Open Source
  • USO
Mengkhayal dikit ah :)

Kamis, Desember 22, 2005

Happy 32 T Day


Minggu lalu Mbak JMS sms ke aku, minta artikel tentang konsekuensi biaya yang keluar dari penerapan UU HAKI. Dalam salah satu pesannya aku diminta untuk menghitung biaya dari 4,7 juta komputer yang ada di Indonesia.

Asumsi yang saya gunakan adalah:
  • 90% PC yang terjual ber OS dan Aplikasi bajakan
  • 10% Sisanya terinstall Open Source Software.
  • 90% dari 4,7 juta = 4,2 juta
  • 100% dari 90% terinstall OS Windows XP + Office = $400
  • 90% dari 90% terinstall Anti Virus dan Utilities = $150
  • 50% dari 90% terinstall Multimedia Software ( Adobe, Corel, Macromedia ) = $470
Sehingga jika dihitung:
  • $400 x 4.200.000 = $ 1.680.000.000
  • $150 x 4.200.000 x 90% = $ 567.000.000
  • $470 x 4.200.000 x 50% = $ 987.000.000
  • Total : $ 3.234.000.000
  • di kalikan dengan Rp 10.000 = 32 Triliun

Nah, pilih mana? Propierty, Open Source/Linux atau Membajak?

Selasa, Desember 20, 2005

Microsoft to cease IE support for Apple's Mac

http://english.people.com.cn/200512/20/eng20051220_229551.html

Users who use Microsoft's IE to read web pages on Mac will soon have to consider another browser. Microsoft will not support IE operation on Mac any longer as of Dec. 31 this year.

That will not be a surprise to Mac users. Microsoft declared the move as early as June, 2003. No upgrading has been made on IE for three years. This means that IE5, instead of IE6 which is used by Windows users, is the latest version that is offered for the Mac system.

Although Mac subscribers can continue browsing with IE for a month after the support ceases, Microsoft has advised them to shift to ¡°more recent web browsing technologies such as Apple's Safari.

IE will not be a problem for Apple users because most of them have applied different browsers on their computers. The only potential trouble is that some web pages can only be accessed through IE.

That does not seem to matter a lot. But that is not the end of the problem. SciVisum, a UK-based company offering web testing service, said one-tenth of web sites in Britain cannot be browsed with Firefox, an open-source browser which is in vogue.

Firefox, Safari and other browsers like Opera are all operational under Apple's Mac OSX operating system.

Berita yang menarik, 1/10 situs web di Inggtis tidak bisa dibrowsing di Firefox, selama ini sih yang tidak saya akses melalui FireFox adalah 17tahun.com (sukurlah hehehehe). Pertanyaannya adalah siapakah yang begitu tolol membuat sebuah situs hanya untuk 1 jenis browser?

Aku bukan pengguna Mac tapi jika IE jalan di Linux pun ogah, karena aku akan kehilangan tab browsing, Adblock dan antarmuka ( interface ) yang sederhana dari Firefox.

hubungan Web Cam dan iptables

Kemarin iseng dengan router di Kampus, kebetulan ada satu kamera wireless dengan IP sendiri. Nah, aku pengen supaya kamera bisa di akses dari internet.

Karena udah lama tidak pegang router, jadilah aku lupa semua :( tapi apa susahnya sih, kan ada internet :) tinggal cari tau dimana bisa baca NAT-Howto. Prosesnya sederhana, jika ada request di port 80 (web) pada router, maka request tersebut di forward ke sebuah IP lain di lokal network. Dengan cara ini, walau ber IP Private, komputer kita tetap bisa di akses lewat internet :)

Perintahnya sederhana:
#iptables -t nat -A PREROUTING -d {ip-public} -p tcp --dport 80 -j DNAT --to {ip-private}
ip-public = ip router
ip-private = ip kamera

Kalo udah tinggal nyari temen buat ngetest akses ke kamera tersebut.


Senin, Desember 19, 2005

Pilkada dan Telematika

Ingat dengan kasus Pilkada di Depok? Kalo gak tau, ceritanya begini: Setelah pilkada (dan ada pemenangnya) hasilnya dibawa ke pengadilan dengan alasan banyak yang seharusnya ikutan memilih tidak ikut memilih.
Di pengadilan hasilnya mengejutkan, sang pemenang dinyatakan kalah dengan logika bahwa yang tidak ikut memilih semuanya dianggap memilih sang pecundang. Logika darimana yang dipergunakan? Saya pikir tadinya logika dari planet Neptunus.

Yang aneh bin ajaib...

Di milis telematika juga ternyata ada yang berlogika sama, walau sudah jelas jelas kalah dalam pooling tetap saja ber alasan bahwa yang pendukung lawan "cuma" 53 orang dan "silent majority" ( 1600 org ) di anggap pendukung.

Pantas lah negeri ini kacau, orang-orang tua kita ternyata tidak di didik berlogika yang baik, padahal sudah berkecimpung di dunia Telematika yang notabene berbasis logik.

Sabtu, November 26, 2005

Suse oh Suse :)

Hari Sabtu di kampus biasanya urusan kerjaan tidak berat, maklumlah namanya juga akhir minggu. lagipula Sabtu kemarin ( 26 Nop 2005) aku cuma dapat tugas untuk bikin logo untuk Sekolah Tinggi Teknologi dan Komputer yang bakal didirikan di Makassar.

Forget about that, kali ini kita ngomongin Suse 10 know as OpenSuse :) karena iso 4 CD sudah di download waktu lebaran kemarin tapi belum sempat di coba. Maka aku bakar lah 4 CD dan dalam waktu 1 jam selesai.

Sampai di kampus, rupanya ada yang berbaik hati untuk menginstall Suse di desktop-nya untuk percobaan. Maka di opreklah komputer tersebut, di bagi bagi partisi ( Suse dapat jatah 9 Gb) dan setelah semuanya siap, CD #1 masuk ke cd-drive, komputer di restart.

No comment about installation, karena aku tidak ikut campur, aku biarin aja rekan yang TIDAK PERNAH install LINUX yang nanganin, aku cuman ngasih tau 1 hal: network di set ke DHCP. So, for all windowers out there masih mau bilang susah install linux? :))

60 menit instalasi selesai.

Tampilan? jangan ditanya, KDE 3.4 bener-bener KOOL dan Suse ini berjalan di RAM 128 minus 8mb buat VGA.

Sekarang, kita bicara so BUG, yups.. setelah selesai menikmati instalasi baru si desktop di restart untuk masuk ke Windows 2000 dan terbukalah sebuah bug, si GRUB tidak bisa loading Partisi Jendela 2000. Coba di googling dan hasilnya memang ada sebuah bug di Suse sehingga dual boot jadi bermasalah.

Berhubung hari Sabtu dan kita lagi males utak atik (ada kok caranya atasi) aku pinjamin CD Ubuntu aja, yes...Ubuntu for the rescue :)) so... Niat mencoba Suse10 berakhir dengan terinstallnya Ubuntu.

Kamis, November 24, 2005

Ubuntu n Kubuntu


2 minggu lalu aku download sister distro dari kambing.vlsm.org ( I love u guys for providing the mirror). Ubuntu dan Kubuntu (Breazy).

Yang pertama dicoba tentu Ubuntu, the most popular distro in year 2005 ( check out distrowatch page ), aku install di desktop kantor.

Instalasi mulus, cuman sedikit bersabar untuk setting Wifi karena harus download ndiswrapper dulu. Tapi setelah semua terinstall. Semuanya berjalan dengan baik.

Desktop Khas ubuntu, neat and clean. Semua yang kita butuhkan ada. OpenOffice2, Gaim, Firefox, Gimp. I'm a happy Man :)

Printer, HP laserjet 1010 terinstall dengan Mulus. No problem again

Network menyenangkan, setelah tidak bisa komunikasi dengan windows server 2003 di Mandriva, maka di ubuntu koneksi berlangsung lancar. Remote Desktop juga tersedia sehingga aku bisa admin kedua mindows (2003+2000) tanpa harus ke konsol.

Peripheral, Logitech Cam terdeteksi, Flash Disk mulus, camera digital terdeteksi dan langsung di buatkan album.

Sistem Update dan Manajemen Software juga bagus, terutama buat yang memiliki koneksi internet berbandwidth lebar.

Yang tidak mulus apanya? Kecepatannya yang tidak mulus, desktop yang aku gunakan: Celeron 2Ghz, 256Mb, 16Mb VGA. Berjalan (jauh) lebih lambat daripada notebook Celeron M360 yg terinstall Mandriva.

Setelah 2 minggu bermain main dengan ubuntu, tiba gilirannya Kubuntu.
Tidak ada perbedaan berarti saat instalasi, cuman beda warna dan huruf "K"

Tapi meskipun tampilan KDE menarik hati, umur distro ini di desktop ku cuman 4 jam. Aku kecewa dengan aplikasi yang di ikutkan oleh Kubuntu. tidak ada Firefox, Gaim (Kopete tidak senyaman Gaim) dan entah mengapa tidak ada GIMP. Remote Desktop ada di menu tapi pas di klik muncul warning mengatakan aplikasi belum di install.

Intinya, Kubuntu terasa tidak sebagus Ubuntu;ini pendapat personal tidak usah ditanggapi :).

Apa boleh buat, seandainya Ubuntu tidak bermasalah dengan kecepatan (yg cukup mengganggu) tentu saat ini desktop ku isinya bukan Mandriva.

Jadi pemenang antara Ubuntu dan Kubuntu adalah: Mandriva LE 2005