iklan test

Senin, Mei 29, 2006

Warnet saya untung, balik modal atau merugi?

Dibawah ini ada cara sederhana untuk menghitung. Cara ini menghitung beberapa variabel yang dapat anda sesuaikan dengan kondisi warnet anda seperti:

- Nilai Total Investasi
- Harga Jual
- Utilisasi warnet

Tabel perhitungan ini akan menghasilkan lamanya bulan balik modal sebagai hasil akhir.

Kita andaikan saja sebuah warnet 15 PC dengan Nilai Total Investasi Rp 220.000.000,- dan jangka waktu kontrak lokasi adalah 24 bulan ( 2 tahun ). Berapa lama kah jangka waktu balik modal warnet tersebut dengan harga jual Rp 4000/jam, Rp 5000/jam dan Rp 6000/jam? Tabelnya adalah sbb:

(A) Jumlah PC: 15
(B) Jam buka : 08.00 - 24:00 (16 jam )
(C) Biaya Operasional: Rp 11 juta / bulan
(D) Harga Jual: Rp 4000 / jam
(E) 1 bulan: 25 Hari Kerja
(F) Investasi: Rp 220 juta

Utilisasi
(1)
PC Aktif
(2)
Total Harian
(3)
Bruto
(4)
Netto
(5)
Bulan BEP
(6)

(1) * (A) (A) * (D) * (2) (3) * (E) (4) - (C) (F)/(5)
90% 13,5 864.000 21.600.000 10.600.000 20,75
80% 12 768.000 19.200.000 8.200.000 26,83
70% 10,5 672.000 16.800.000 5.800.000 37,93
60% 9 576.000 14.400.000 3.400.000 64,71
50% 7,5 480.000 12.000.000 1.000.000 220

(A) Jumlah PC: 15
(B) Jam buka : 08.00 - 24:00 (16 jam )
(C) Biaya Operasional: Rp 11 juta / bulan
(D) Harga Jual: Rp 5000 / jam
(E) 1 bulan: 25 Hari Kerja
(F) Investasi: Rp 220 juta

Utilisasi
(1)
PC Aktif
(2)
Total Harian
(3)
Bruto
(4)
Netto
(5)
Bulan BEP
(6)

(1) * (A) (A) * (D) * (2) (3) * (E) (4) - (C) (F)/(5)
90% 13,5 1.080.000 32..400.000 21.400.000 13,75
80% 12 960.000 28.800.000 17.800.000 16,92
70% 10,5 840.000 25.200.000 14.200.000 22
60% 9 720.000 21.600.000 10.600.000 31,43
50% 7,5 600.000 18.000.000 7.000.000 55

(A) Jumlah PC: 15
(B) Jam buka : 08.00 - 24:00 (16 jam )
(C) Biaya Operasional: Rp 11 juta / bulan
(D) Harga Jual: Rp 6000 / jam
(E) 1 bulan: 25 Hari Kerja
(F) Investasi: Rp 220 juta

Utilisasi
(1)
PC Aktif
(2)
Total Harian
(3)
Bruto
(4)
Netto
(5)
Bulan BEP
(6)

(1) * (A) (A) * (D) * (2) (3) * (E) (4) - (C) (F)/(5)
90% 13,5 1.296.000 27.000.000 16.000.000 10,28
80% 12 1.152.000 32.000.000 13.000.000 12,36
70% 10,5 1.008.000 21.800.000 10.000.000 15,49
60% 9 864.000 18.000.000 7.000.000 20,75
50% 7,5 720.000 15.000.000 4.000.000 31,43

Dari ketiga tabel di atas kita bisa liat hubungan langsung antara strategi penetapan harga jual, utilisasi dan bagaimana efeknya terhadap jangka waktu balik modal warnet anda. Silahkan anda masukkan variabel-variabel warnet anda di tabel tabel tersebut dan pelajari apakah strategi bisnis warnet anda sudah memenuhi syarat untuk disebut warnet yang meraih keuntungan, sekedar balik modal atau malah merugi.

Jumat, Mei 19, 2006

Kata Siapa Jualan harus Untung


Entah dapat inspirasi dari mana sang pedagang ini. Tapi harus di masukkan dalam alam pikiran kita: ternyata Jualan tidak harus untung :D

Kamis, Mei 18, 2006

Legos = Legal Angkotssss


Jangan-jangan owner Angkot punya warnet, karena warnetnya harus Legos ( Legal OS ) untuk menghindari sweeping, maka angkotnya pun harus legos ( legal Angkotsss ) supaya gak di semprit Pak Pol? Place: Halte Pasar Jumat, Jak Sel.

Rabu, Mei 17, 2006

Mengembangkan Warnet

Seperti halnya bidang usaha lain, sebagai pengusaha warnet kita tentu ingin mengembangkan usaha warnet kita. Pertanyaannya tentu saja adalah: Ke arah mana saja kita bisa mengembangkan warnet ini? Sekali lagi saya ingin mengajak para pengusaha warnet untuk melihat peluang lain di warnet tanpa meninggalkan sama sekali dasar usaha anda: Warnet.

Salah satu hal yang sering saya dapati dari pengusaha warnet adalah minimnya kreatifitas dan terperangkap dalam pola pikir tertentu yang akhirnya membuat mereka tak bisa keluar dari sebuah lingkaran setan. Contoh yang paling nyata dari kurangnya kreatifitas adalah perang harga antar warnet yang akhirnya membuat bidang usaha warnet cenderung stagnan, setiap munculnya pemain baru selalu di sikapi dengan perang harga baik oleh pemain baru maupun pemain lama. Situasi seperti ini akhirnya membuat bidang usaha warnet menjadi sebuah usaha yang muram, tak pasti, mudah bergejolak dan rawan.

Meskipun demikian, akhir-akhir ini saya melihat beberapa rekan warnet sudah cukup percaya diri dengan tidak menjadikan harga sebagai faktor jualan utama sebaliknya menjadikan mutu pelayanan ( bandwidth maupun sdm ) yang baik sebagai faktor jualan utama mereka dan sebagian sudah menunjukkan bahwa mereka justru lebih bisa meraih keuntungan dengan persentasi yang (jauh lebih) baik dibanding mereka yang berkutat di perang harga.

Jika kondisi warnet anda sudah bagus maka langkah berikutnya adalah pengembangan. Jika yang anda lakukan adalah pengembangan sebatas upgrade PC ,menambah jumlah PC, Menaikkan kapasitas bandwidth atau menambah kenyamanan warnet anda tentu saja tidak sulit. Beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam mengembangkan warnet kita adalah:

1. Menambah jumlah warnet/ jaringan warnet
Ini adalah pilihan yang paling logis, sebab jika manajemen warnet anda telah terbukti bagus maka bangunlah warnet baru lagi. Pengalaman anda mengelola warnet dengan baik dan memberikan keuntungan adalah modal utama.

2. Franchise-kan warnet anda
Warnet anda telah bertambah, namanya telah terkenal, manajemen bagus. Kenapa tidak memberikan kesempatan kepada pihak lain yang tertarik untuk membuat warnet bergabung dengan Jaringan Warnet anda? Anda mempunyai kesempatan untuk memberikan pihak lain untuk mendapatkan keuntungan dan anda tidak perlu mengeluarkan modal yang banyak untuk memperluas jaringan warnet anda.

3. Membangun RT/RW Net
warnet anda berada disekitar perumahan atau banyak yang tertarik untuk koneksi internet tapi inginnya akses dari rumah? Salurkan saja bandwidth warnet ke rumah-rumah sekitar warnet anda. Media kabel dan Nir-Kabel/Wifi bisa anda gunakan, tentu saja user harus diberi pengertian untuk tidak meng”abuse” koneksi yang ada atau anda pasang saja bandwidth management yang baik untuk mengatur pembagian jatah bandwidth dengan baik. Keuntungan dari RT/RW Net adalah: kita bisa memiliki “penghasilan yang terprediksi” sebab umumnya sistem pembayaran menggunakan sistem iuran bulanan dengan jumlah tetap.

4. Jadi ISP
Anda sudah memiliki jaringan warnet, sudah melakukan franchise, sudah punya RT/RW Net aduh tanggung nih, mendingan jadi ISP sekalian :) meskipun begitu, perlu anda ingat bahwa bidang usaha warnet dan ISP itu serupa tapi tak sama. Menjadi ISP dan memiliki warnet dapat membuat anda di curigai pelanggan anda (yang kebetulan warnet juga) melakukan “pilih kasih” apalagi jika pas warnet anda terkoneksi sedang warnet pelanggan terputus.

Masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mengembangkan warnet kita, sebagai contoh: beberapa warnet mengembangkan diri menjadi bisnis center dengan menyediakan layanan-layanan bisnis di warnetnya. Ada juga yang mengembangkan diri menjadi tempat pelatihan/kursus komputer. Sehingga dapat dikatakan bahwa batasannya hanyalah kreatifitas kita.

Tapi yang perlu diingat adalah: semua hal di atas dapat kita lakukan hanya dengan manajemen yang baik dan selalu tanggap dalam membaca perubahan-perubahan di bisnis warnet. Tahun 2001, warnet-warnet masih mempermasalahkan mahal dan lambatnya koneksi dial-up, di tahun berikutnya permasalahan bergeser ke belum adanya kepastian perijinan untuk penggunaan frekuensi 2,4GHz (sehingga rawan sweeping), tahun berikutnya permasalahan bergeser lagi menjadi apakah bertahan sebagai warnet atau berpindah menjadi game center. 2004 ke atas isu yang paling menonjol adalah isu HAKI dan Legalitas. Tidak heran jika warnet adalah bidang usaha yang paling dinamis dimana timbul tenggelamnya pemain baik baru maupun lama adalah hal yang biasa. Namun kita juga melihat ada warnet yang mampu mengatasi segala problematika tersebut dengan baik dan membuktikan bahwa mereka bisa di contoh dalam menjalankan usahanya.

Selasa, Mei 16, 2006

Warung Internet di Tahun 2006

Kondisi warnet di Indonesia memiliki ciri sendiri tiap tahunnya, jika kita mengikuti milis warnet terbesar di Indonesia ( bahkan mungkin di dunia? ) yang aktif di Yahoo Groups sejak tahun 2000. Maka di tahun 2000 kita dapat membaca bahwa keluhan warnet sebagian besar pada mahalnya biaya dial-up dan masih berlangsung di tahun 2001, tapi di tahun-tahun berikutnya 2002 dan 2003 mulai bermunculan pilihan koneksi selain dial-up dengan harga terjangkau seperti Wireless/Wifi, Cable, ADSL.

catatan: milis awari sendiri sudah lama aktif dimana saya sendiri terdaftar sejak milis masih berada di server egroups.

Di tahun 2004 dan 2005, yang menonjol dari warnet adalah isu legalitas perangkat lunak. Walau sebenarnya beberapa pakar dan aktifis TI yang memiliki perhatian sudah menyuarakan isu ini sejak UU HAKI disahkan, namun gaungnya tidak seheboh ketika isu Sweeping Warnet oleh Kepolisian mulai di lakukan.

Bagaimana di tahun 2006 ini? Apakah kondisi warnet sudah lebih baik dari sebelumnya?

Persoalan Klasik
Secara umum, tidak ada kemajuan yang signifikan dari kondisi per warnetan di Indonesia. Persoalan-persoalan klasik warnet masih pada:
  • Mahalnya harga bandwidth
  • Kualitas Bandwidth
  • Persaingan harga antar Warnet
  • Kualitas SDM

Dan saat ini persoalan-persoalan itu bertambah, yaitu:
  • Legalitas Perangkat Lunak versus Biaya Tinggi Perangkat Lunak
  • Warnet Open Source masih menerima resistensi dari kalangan warnet sendiri walaupun sudah ada success story.
  • Rendahnya perlindungan hukum terhadap warnet.
  • Perampokan Warnet di Jabotabek.

Legalitas Perangkat Lunak merupakan persoalan yang sangat menarik sebab walaupun internet adalah gudang Informasi, namun tidak sedikit warnetters ( pemilik, pengelola, operator ) yang tidak mengerti atau peduli terhadap legalitas perangkat lunak, bahkan pertanyaan mengenai legalitas perangkat lunak ini termasuk yang paling sering dipertanyakan di milis selain pertanyaan mengenai ISP, Billing System, Ijin Warnet, Pornografi dan Teknologi Komunikasi Data.

Berita Baik
Di luar persoalan-persoalan di atas, ada juga berita yang baik yaitu: Walaupun warnet terkenal sebagai bidang usaha yang cukup rumit dan tricky, namun tidak pernah kehilangan peminat dari kalangan entrepreneur muda untuk masuk ke bidang usaha ini. Ini terlihat dari member mailing list yang baru rata rata bergabung karena ingin mendirikan warnet.

Selain itu, beberapa warnet ternyata sudah berhasil meningkatkan/memperluas usahanya sehingga menjadi jaringan warnet/franchise warnet maupun ISP dan ada juga warnet yang berhasil membuat distribusi linux untuk digunakan secara bebas bagi yang berminat.

Jika melihat diskusi yang terjadi di mailing list awari ( asosiasi-warnet@yahoogroups.com ) kita juga akan melihat betapa warnet-warnet sudah menyadari bahwa mereka sebaiknya tidak memberikan akses ke situs situs pornografi dan judi maupun memberikan akses ke pihak-pihak carder. Beberapa warnet malah berani mengusir pelanggan mereka yang menggunakan terminal warnet untuk mengakses pornografi, alasan utama bukan semata moril tapi menghindari warnet tersebut dari sangkutan dengan hukum.

Peran Pemerintah
Kembali ke kondisi Warnet, Pemerintah sebaiknya memberikan ruang bernapas yang lebih baik ke Warnet, aturan yang kondusif, perlindungan berusaha yang baik, akses ke penyediaan bandwidth yang murah, pelatihan managemen, etc. akan sangat membantu warnet melepaskan warnet dari kondisi “terjepit”. Dalam beberapa kasus, terjebaknya warnet ke pornografi, carding, judi, pembajakan software, berubah jadi game center adalah karena faktor “kejar setoran” yang apa boleh buat harus dilakukan dan di akui akan sulit di lakukan dengan baik dan benar jika Pemerintah tidak melindungi warnet-warnet yang telah berusaha menjalakan usahanya dengan benar.

Perlindungan ini juga berarti Polisi jangan mensweeping dan menyita perangkat warnet yang terbukti bersalah melanggar hukum, sebab tingginya faktor kerumitan pengelolaan warnet menyebabkan banyak warnet tidak menyadari apa yang mereka lakukan termasuk melanggar hukum. Kepolisian sebaiknya menjadikan warnet sebagai partner dalam menyuarakan legalitas perangkat lunak dan berinternet dengan sehat.

Sangat disayangkan jika Kepolisian demi menghambat pornografi, judi, terorisme dan pembajakan perangkat lunak harus mematikan akses ke arus informasi dan ilmu pengetahuan yang di sediakan warnet dengan harga yang murah dan terjangkau oleh masyarakat.

Senin, Mei 15, 2006

Makassar 1 minggu ini

- Ada peristiwa SARA ( tapi TKI di gebug sampai mampus di Sg, My, Saudi di diemin aja gak didemo )
- Mahasiswa makin aneh aja demonya ( jalan depan kampusnya di jadikan 1 arah juga di demo )
- PLN mematikan aliran listrik 4 jam setiap hari. Gila man, lagi nulis email lampu mati, lagi nonton bola lampu mati, semoga para pejabat PLN itu di gantung di lapangan karebosi!!!trima kasih PLN, anda baru saja membuat kota Makassar makin terpuruk.
- Panas, iya..AC gak nyala, minuman ga dingin, es cair x-(
- KTP 1 hari selesai :D dan di dinding Kantor Kecamatan di tulis dengan jelas tarif masing masing layanan. bagus bagus bagus..
- Cuma harus bayar PBB dulu baru di buatin :(
- Ada tempat buat anak anak main motor trail :) nanti aku posting fotonya :D
- Mall tetap rame
- Nyari CD software bajakan = mission impossible :) hehehe, Trims Pak Polisi, terusin dong situasi begini.
- ATM BRI gagal transaksi tapi kena tetap dihitung! Waduh! Tapi pas ke BRI ngurus, di layani dengan baik dan di janji 3 hari selesai :) pas iseng ngelirik daftar komplen atm, ternyata banyak juga :D
- Gepeng di perempatan jalan hilang, bukan karena di usir tapi karena arus lalu lintas diubah sehingga Traffic Light tidak diperlukan :)) apa harus kita ubah semua perempatan di kota ini?

Sabtu, Mei 06, 2006

1+1+1+1 = 12

Perhatikan judul di atas, bahkan anak SD pun akan mengatakan bahwa perhitungan tersebut adalah suatu kesalahan. Betulkah? Jika kita menggunakan pola berpikir konvensional maka perhitungan tersebut tidak perlu di pertanyakan. Perhitungan tersebut salah.

Tapi mari kita coba memperluas wawasan berpikir kita dimana perhitungan tersebut di atas adalah benar dan ini adalah hubungannya dengan kekuatan kita sebagai warnet.

Mengapa warnet? Karena kita adalah perkumpulan para pengusaha warnet dan tulisan ini adalah untuk membahas kekuatan sebenarnya para pengusaha warnet. Banyak dari kita tidak sadar kekuatan kita sebenarnya. Kita sudah sangat terkungkung oleh pemikiran 1+1+1+1=4, kita tak sadar bahwa dalam dunia kita 1+1+1+1 adalah 12

Saya akan memberikan angka angka sederhana. Jumlah warnet di seluruh Indonesia berkisar di angka 3500. Jika setiap warnet tersebut kita andaikan menggunakan koneksi 64Kbps seharga Rp 3.000.000,- maka total nilai pembelanjaan warnet Indonesia dalam 1 bulan adalah = 3500 x Rp 3.000.000,- = Rp 10.500.000.000,- ( Sepuluh Miliar Lima Ratus Juta Rupiah ).

Sudahkah angka tersebut memberikan anda sebuah gambaran?

Saya akan memberikan sebuah perhitungan sederhana lainnya. Di Sebuah daerah terdapat 4 buah warnet. A.Net, B.Net, C.Net, D.Net. Si A menggunakan bandwidth 64 Kbps / Rp 3.500.000,-, si B juga menggunakan bandwidth yang sama ( 64 Kbps ). si C menggunakan bandwidth 128 Kbps / Rp 6.500.000,- kemudian si D menggunakan bandwidth 192 Kbps/ Rp 9.000.000,-.
Total penggunaan Bandwidth ke empat warnet tersebut adalah:
64 + 64 + 128 + 192 = 448 Kbps

Total nilai pembelanjaan bandwidth adalah:
Rp 3.000.000+Rp 3.000.000+Rp 6.500.000+Rp.9.000.000,- = Rp 21.500.000,-

Perhatikan bahwa dengan nilai total pembelanjaan bandwidth tersebut kita dapat mendapatkan bandwidth sebesar 2 Mbps menggunakan koneksi VSAT.Keempat warnet tersebut di atas karena berjalan sendiri sendiri maka total bandwidth yang bisa mereka gunakan adalah 448 Kbps. Tapi jika mereka
bersatu membeli bandwidth maka mereka bisa mendapatkan kapasitas sebesar 2Mbps, empat kali kapasitas yang mereka miliki sekarang. Ini lah yang saya analogikan dengan judul tulisan ini: 1+1+1+1= 12.

Langkah Awal untuk membangun kekuatan.
Jika kekuatan di atas sudah di sadari, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana mewujudkan kesadaran akan potensi kekuatan tersebut ke best practice?

Sebelum melangkah ke aksi, hendaknya di ingat terlebih dahulu bahwa yang warnet lakukan bukanlah pengurangan biaya namun meningkatkan pelayanan sehingga efek yang dihasilkan adalah: pelanggan warnet akan semakin setia dan calon pelanggan tidak ragu untuk menggunakan pelayanan yang disediakan oleh warnet.

Perhatikan angka-angka bandwidth di perhitungan di atas. Dari 448 Kbps ke 2 Mbps adalah peningkatan empat kali lipat kapasitas. Namun perlu kita perhatikan bahwa diluar penambahan kapasitas ada biaya untuk infrastruktur. Sehingga untuk lebih efisiennya maka sebaiknya kapasitas
yang di ambil cukup 1 Mbps dan sisa dana di alihkan untuk membiaya infrastruktur tambahan. Toh penambahan kapasitas tetap terjadi 100% dan biaya infrastruktur tidak menjadi beban tambahan.

Langkah berikut adalah bangunlah kekuatan tersebut dengan warnet di daerah anda. Kesadaran akan kekuatan memang membutuhkan kesabaran tapi bukan berarti tidak mungkin. Jangan berpikir untuk mengumpulkan semua warnet, tapi mulailah dengan siapa saja yang "sadar" dan setelah berjalan ajak
lagi yang lain sehingga jaringan kekuatan tersebut bisa saja berawal 4-5 warnet dan berakhir dengan 20 warnet di daerah anda sebelum bersatu dengan jaringan kekuatan lain.

Sebagai ilustrasi sederhana, katakanlah warnet-warnet seputaran depok mulai menggalang kekuatan, kemudian warnet warnet daerah lain di Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya juga mulai bergerak menyatukan jaringan kekuatan ini, maka dalam waktu singkat kekuatan tersebut akan menjadi
sebuah jaringan komunikasi data besar yang dapat di manfaatkan untuk menambah penghasilan warnet dengan mengundang pihak pihak ketiga untuk memanfaatkan jaringan yang telah tumbuh tersebut.

Penutup
Banyak manfaat yang dapat di dapatkan dari mempersatukan kekuatan kita, warnet. Sayang, dari bertahun tahun mengikuti komunitas warnet, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah: setiap orang jangan memaksakan kepentingannya tapi buatlah terlebih dahulu aturan aturan/prinsip dan
berjalanlah di prinsip tersebut. Prinsip tersebut haruslah prinsip yang bersih dan mencerminkan komitmen kita warnet dalam memajukan bangsa sehingga kita warnet dapat menempatkan usaha kita ke posisi yang terhormat jauh dari label sumber pornografi, cracking, terorisme, ilegal software
dan label-label lain yang negatip.

Awari dalam hal ini harus menjadi perekat dan berjuang dalam menetapkan aturan dan prinsip tersebut dalam setiap program yang akan di jalankan.

Jumat, April 21, 2006

Dari Warnet ke Warnet :D

Selama seminggu di Jakarta, saya mencoba untuk mengunjungi beberapa warnet. Maklum aja, sebagai orang yang terjajah teknologi terutama teknologi internet :p warnet merupakan sarana yang paling pas untuk online selain dari rumah via telkomnet instan yang mahal itu :D

Dari beberapa warnet yang saya kunjungi, ada beberapa catatan yang saya beberkan di tulisan ini. Yang jelas ada warnet yang bagus, cukup bagus, hingga yang mengecewakan.

Warnet yang pertama saya kunjungi lokasinya di Radio Dalam, koneksinya menggunakan wireless dan bagus (baca: cepat) komputer juga bagus. Waktu saya menanyakan apakah saya bisa menggunakan notebook, si operator mengatakan tidak bisa. Saya melihat kebingungan sepersekian detik :p tapi dengan pandai dia mengatakan “tidak bisa mas, gak ada kabel yg tersedia” dan saya kira itu lebih baik daripada operator warnet berikut yang saya datangi esok harinya di daerah Ciputat / UIN yang membiarkan saya menunggu selama 5 menit hanya untuk menunggu seorang teknisi yang cuma bisa cengengesan dan mengatakan “tidak bisa” dan si operator hanya sibuk dengan layar chattingnya. Owner warnet, anda semuanya harus menegur dengan keras operator anda yang cuma sibuk chatting pada saat jam kerja.

Di warnet yang ketiga, sang operator memberikan kesempatan bagi saya untuk mencolokkan kabel UTP ke port LAN di notebook tapi sayang sekali…, si operator mengira cukup dengan mencolokkan kabel ke notebook maka semua bisa jalan. padahal saya masih memerlukan informasi IP address, gateway dan DNS :( dan setelah melihat sang operator tidak bisa membantu sama sekali, saya menyerah dan membuka terminal lain dan pada saat itu saya sadar jika koneksi internet lagi putus!!!!

Dengan putus asa, akhirnya saya menuju warnet teman saya sendiri di daerah Kelapa Dua (Depok). Disana tentu saja saya bisa menyambung notebook dengan lancar tanpa halangan, si owner juga tau informasi apa yang saya perlukan untuk setting tcp/ip pada notebook ( sejujurnya tetap saja saya menganggap dia perlu memasang servis DHCP daripada repot ngurusin IP Address untuk 30 PC ) apakah problem saya selesai? Ternyata belum. Dari warnet teman saya tersebut, saya tidak mem”POP” email maupun mengakses email saya via web. Saya cek dengan admin ISP di Makassar tidak ada masalah dengan email server dan web server mereka ( Sorry Dani, saya ngerepotin jam 4 pagi :D ) saya harus nyari proxy anonymous dulu untuk bisa mengakses via web. 3 POP mail saya tetap tidak bisa di akses.

Hari ini, saya jalan2 di Blok M Plaza dan melihat sebuah warnet di Mall tersebut. Isinya penuh, saya harus menunggu sebentar untuk mendapatkan tempat dan ketika mengklik “start” pada billing. surprise!!! it’s a Linux :D menyenangkan :) dan aksesnya cepat, saya mengakses email, yahoo mail, gmail, chatting sebentar dengan teman-teman di Makassar. tarifnya Rp 4000/30 menit. Mahal? Dengan kecepatan seperti ini, saya tidak merasa mahal sebab saya bisa mengecek ke tiga web mail dengan cepat dan tidak perlu menunggu lama sehingga 30 menit itu benar-benar efisien. Ketika mencoba bertanya ke Operator mengenai distro yang di gunakan, dia berkata bahwa mereka menggunakan berbagai distro ( ubuntu, Lex dll ).

Untuk warnetters ( warnet owner’s), apa yang saya tulis ini adalah pendapat pribadi yang tentu saja berdasarkan kebutuhan saya mengenai akses internet. Apakah semua user seperti saya? Sudah tentu tidak. Tapi saya kira catatan mengenai sikap, pelayanan dan pengetahuan Operator sangat mempengaruhi kepuasan user. di warnet yang kedua saya sangat kecewa karena di biarkan menunggu oleh operator yang tidak bisa memalingkan muka sedetik pun dari monitor. di warnet yang ketiga, walaupun kecewa tapi usaha sang operator untuk melayani saya sebaik mungkin cukup mengobati rasa kecewa dan saya akhirnya menyalahkan koneksi yang putus :p

Minggu, April 16, 2006

Ketika Kebijakan Memakan Pembuat Kebijakan

Hari ini saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan seorang perwira tinggi di ruang kerjanya. Kesempatan yang jarang. Dari perbincangan singkat itu, saya menangkap jika beliau mengerti benar bagaimana kecepatan memperoleh informasi sangat membantu tugas beliau dalam mengungkap kejahatan dan membekuk pelaku kejahatan istimewa/luar biasa.

Tapi catatan ini bukanlah mengenai hal itu. Dari perbincangan itu, saya menangkap kenyataan bahwa kebijaksanaan infrastruktur telekomunikasi data kita bukan hanya menyusahkan rakyat karena menghasilkan biaya yang (sangat) tinggi namun pada akhirnya memakan pihak pemerintah juga si pembuat kebijakan.

Mengapa saya katakan seperti itu? Begini, lembaga yang di kelola perwira tinggi tersebut ingin mengkoneksikan banyak titik penting yang perlu bagi kelancaran tugas lembaga tersebut. Tapi kelihatannya keinginan beliau terhalang oleh mahalnya biaya koneksi tersebut. Yang lebih menyedihkan adalah: ketika permintaan koneksi data tersebut adalah nyata untuk kepentingan negara dan isinya, tetap saja tidak ada solusi yang tersedia.

Mahalnya koneksi tersebut bahkan sudah sampai pada tahap yang membahayakan, karena yang terjadi adalah: Bahkan lembaga pemerintah pun akhirnya terbelenggu oleh mahalnya biaya komunikasi data, sehingga sebuah lembaga yang tugasnya (sangat) penting bagi negara ini harus “pontang panting” demi sebuah koneksi data.

Kebijaksanaan infrastruktur komunikasi data harus segera direvisi dan dipertimbangkan fungsinya bagi pencerdasan bangsa dan kepentingan negara lainnya. Menghambat komunikasi melalui biaya (sangat) mahal sama saja membiarkan bangsa ini tenggelam dalam keterbatasan informasi dan pada akhirnya menghalangi kemajuan dan kemampuan bangsa ini dalam menghadapi tantangan tantangan zaman dan masa depan demi sebuah angka keuntungan yang sebagian (besar?) malah jatuh ke pihak asing.

Jakarta, 14 April 2006

Jumat, Februari 24, 2006

My Ubuntu vs My Mandriva

Nah kali ini saya punya dua screen shots, yang satunya Ubuntu 5.10 satunya lagi Mandriva 2006. silahkan lihat

Rabu, Februari 01, 2006

Radio Laboratory Handbook free downloads

Radio Laboratory Handbook - Vol 1 Download

The Radio Laboratory Handbook - Vol 1 can be freely downloaded as pdf files in chapters or as a whole.

the link


Jumat, Januari 27, 2006

Town Search Results for Makassar

  • Name : Makassar (alias for Ujungpandang)
  • Region : Sulawesi Selatan
  • Latitude : -5.131
  • Longitude : 119.413
  • Elevation : 3 m



Senin, Januari 23, 2006

LTSP Series - Solusi Booting Harddisk

Mengaplikasikan LTSP memang menarik. Ide memanfaatkan komputer-komputer tua*) agar bisa berjalan dengan kecepatan komputer baru. Namun ada satu sisi halangan yang cukup mengganggu, yaitu tidak semua komputer tua dilengkapi dengan rom boot atau PXE dan terus terang, walaupun mudah mendownload ROM Image dari http://www.rom-o-matic.net namun sulit mendapatkan eeprom writer untuk menulis rom image tersebut ke chip rom.

Untuk mengatasi hal ini kita bisa melakukan booting via floppy atau hard disk, caranya dengan mendownload Floppy bootable rom image (*.zdsk) kemudian masukkan floppy disk yang sudah diformat ke drive dan ketik perintah:

$ cat nama-image-rom.zdsk > /dev/fd0

atau jika anda menggunakan DOS/Windows gunakan program RAWRITE untuk menuliskan rom boot image ke floppy disk.

Tapi menggunakan floppy pun ternyata masih ada problem tersendiri, yaitu hanya cocok pada saat percobaan dan tidak cocok untuk kondisi operasional sebab floppy disk dan floppy drive mudah rusak. Sehingga pilihan berikutnya adalah booting melalui harddisk. Untuk booting melalui harddisk ada beberapa hal yang harus di siapkan:
  • Koneksi Internet :)
  • LTSP Server ( tentu saja )
  • Thin Client dengan harddisk dan cd-drive
  • Damn Small Linux (DSL) LiveCd
catatan:
CD-Drive diperlukan hanya pada saat men-setup client saja, jika sudah selesai cd-drive bisa dilepas lagi dari thin client tersebut.

Mulailah dengan membooting DSL via cd-drive, saya biasanya sekaligus mencoba apakah perangkat seperti NIC, harddisk, dan VGA Card berfungsi dengan baik. Jika semuanya normal, jalankan terminal dan persiapkan harddisk dengan menuliskan "0" pada sector pertama pada harddisk dengan perintah:

# sudo su
# dd if=/dev/zero of=/dev/hda bs=1M count=5

menggunakan tool "cfdisk", partisi ulang harddisk tersebut. Kita hanya membutuhkan sebuah partisi sebesar 40kb :) setelah di partisi, format harddisk tersebut dengan perintah:

# mke2fs /dev/hda1

kemudian kaitkan partisi

# mkdir -p /mnt/hda1
# mount /dev/hda1 /mnt/hda1

Langkah berikut adalah mendownload LILO/GRUB/SYSLINUX loadable kernel format (.zlilo) dari http://www.rom-o-matic.net yang sesuai dengan NIC anda. Pada titik ini, sering terjadi kebingungan dalam memilih jenis rom boot image yang sesuai dengan NIC kita. Untuk mengetahui jenis NIC yang kita miliki bisa kita lakukan dengan memberikan perintah:

# lspci

perintah tersebut di komputer saya menghasilkan tampilan berikut:
.....
00:1f.6 Modem: Intel Corporation 82801DB/DBL/DBM (ICH4/ICH4-L/ICH4-M) AC'97 Modem Controller (rev 03)
01:01.0 Ethernet controller: Realtek Semiconductor Co., Ltd. RTL-8139/8139C/8139C+ (rev 10)
01:02.0 Ethernet controller: Linksys, A Division of Cisco Systems [AirConn] INPROCOMM IPN 2220 Wireless LAN Adapter (rev 01)
.....
perhatikan baris bertuliskan Ethernet controller, menunjukkan tipe NIC saya adalah RTL-8139 :) namun bagaimana memilih dari 14 jenis RTL-8139 yang ada? caranya dengan mencari PCI ID dari NIC tersebut. untuk mengetahuinya berikan perintah:

# lspci -n

perintah tersebut menghasilkan tampilan di bawah:
......
00:1f.6 Class 0703: 8086:24c6 (rev 03)
01:01.0 Class 0200: 10ec:8139 (rev 10)
01:02.0 Class 0200: 17fe:2220
.....

pada baris kedua, perhatikan angka hex 10ec:8139, inilah PCI ID dari NIC yang kita butuhkan. sehingga rom boot image yang kita ambil adalah: rtl8139:rtl8139 -- [0x10ec:0x8139], cara yang sama silahkan anda lakukan untuk NIC anda.

Setelah mendownload LILO/GRUB/SYSLINUX loadable kernel format (.zlilo), buatlah file lilo.conf di /mnt/hda1 yang isinya:

lba32
boot = /dev/hda
map = /mnt/hda1/.map
install = /mnt/hda1/boot-menu.b
image = /mnt/hda1/rom-image-yang-anda-download.zlilo
label=LTSP

kemudian lakukan perintah untuk menuliskan kode etherboot tersebut sebagai LILO image ke MBR dari harddisk:

# lilo -v -C /mnt/hda1/lilo.conf -s /mnt/hda1/backup

Setelah langkah ini silahkan restart untuk mencoba booting dari harddisk :)

diambil dari http://wiki.ltsp.org/twiki/bin/view/Ltsp/BootingFromHarddrive dan beberapa sumber lainnya termasuk pengalaman sendiri.
*) Komputer Tua = Sekelas Pentium I, II dan III. 486 juga bisa tapi terbentur pada keterbatasan perangkat seperti VGA Card.

Kamis, Januari 19, 2006

Saya tidak takut..

Saya tidak takut pada apa yang saya tahu...saya takut pada apa yang saya tidak tahu. Sayangnya, semakin banyak saya berusaha untuk tahu, semakin saya merasa tidak tahu apa apa. :-D

Rabu, Januari 18, 2006

Triple Boot Ubuntu, XP, 2003

PC saya di kampus lebih sering berperan sebagai tempat testing, di dalamnya terinstall XP dan Ubuntu Breezy. Dual boot untuk kedua OS ini tidak masalah, karena XP duluan di install dari Ubuntu. Masalah terjadi setelah saya dapat tugas untuk membuat Demo Remote Desktop menggunakan Windows Server 2003 (WS2003). Boot loader WS2003 yang di install akan menimpa boot loader Ubuntu (GRUB).

Baca selanjutnya ...

Senin, Januari 16, 2006

Skala ekonomi, dicari atau ditunggu?

Alkisah ada dua buah pabrik sepatu, AdiNdas dan Roobek. Keduanya memiliki seorang salesman, si Fulan bekerja di AdiNdas dan si Falun di Roobek. Kedua pabrik ini bersaing dalam segala hal, termasuk ketika keduanya berusaha memperlebar usahanya. Dalam suasana persaingan itulah kedua pabrik ini mengutus keduanya ke negara dunia ketiga, Papini. Maka berangkatlah kedua salesman tersebut kenegara Papini. Setibanya disana, keduanya di hadapkan pada kenyataan. Ternyata negara Papini adalah sebuah negara yang sangat tertinggal dalam segala hal, bahkan penduduk negara tersebut kecuali pejabat negara, tidak menggunakan alas kaki.

20 tahun kemudian sejak kedatangan kedua salesman tersebut, kedua pabrik tersebut masih dalam suasana bersaing, namun pada saat itu sudah ketahuan siapa yang lebih unggul, yaitu Roobek. Mengapa hal ini terjadi?

Rupanya hal tersebut diakibatkan hal yang sederhana namun berakibat besar di kemudian hari. Si Fulan, sang Salesman dari Adindas ketika pulang dari Papini berkata ke Pihak Manajemen: “Percuma kita jualan di Papini, selain miskin. Mayoritas penduduk tidak menggunakan sepatu, buat apa kita jauh-jauh datang kesana hanya untuk jualan sepatu kita ke segelintir Pejabat Papini? Sudah ongkos kirim kesana mahal, tidak ada transportasi etc..etc..etc.” Bagaimana dengan si Falun? Kebalikan dengan si Fulan, dia melaporkan ke Manajemen bahwa di Papini mereka punya pasar yang luas, terbuka dan BELUM ada yang garap. Kita perlu bekerja keras, tapi dengan optimisme, kita akan bisa menguasai pasar disana” dan sekian tahun sejak kedatangan si Falun, Roobek telah membangun pabrik di Papini dengan konsesi yang besar dari Pemerintahan setempat karena mereka telah memberikan manfaat dalam memberikan tenaga kerja bagi negara tersebut, selain itu, murahnya ongkos produksi membuat produk Roobek menguasai pasar di negara lain.


Cara kita menghadapi sebuah kondisi sangat berpengaruh terhadap masa depan.

Kembali ke pembangunan internet Indonesia, prinsip yang samalah yang harus kita kembangkan. Sayang sekali, di negara ini bukannya si Falun mendapatkan penghargaan dengan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan penetrasi internet, malah kita asik membuat si Falun menderita. Ketika rakyat negara tetangga kita telah menikmati koneksi tak terbatas dari internet bandwidth lebar seharga Rp 150.000/bln, kita cuma bisa mengelus dada dengan membayar minimal Rp 300.000/bln dan dibatasi cuma bisa maksimal 750MB dan jika lebih silahkan merogoh kocek lebih dalam. Beberapa orang yang saya kenal malah mengeluarkan biaya lebih dari 1 juta/bln untuk membiayai akses internet mereka.

Apa yang membuat tetangga-tetangga kita bisa menikmati hal tersebut? Apakah skala ekonomi mereka lebih besar dari kita? Apakah negara mereka sudah menjadi pusat internet atau lebih dekat ke Amerika sang pusat internet? Dari sisi skala ekonomi tidak mungkin mereka melebihi kita dan mereka juga jauh dari Amerika. Tapi yang Mereka miliki adalah: Pemerintah yang mau memberikan kemajuan untuk rakyatnya. Pemerintah yang sadar bahwa untuk bersaing di dunia saat ini rakyat yang pintarlah jawabnya. Bukan rakyat yang bisa di bodoh-bodohi terus menerus.

Kita cuma punya satu cerita sukses yang terus menerus diulang ulang sehingga terasa lebih sebagai propaganda, negara pertama yang memiliki satelit di Asia. Setelah itu? Maaf, cuma kisah suram. Kisah bagaimana susahnya mengakses telekomunikasi yang bagus dan terjangkau, kisah bagaimana orang orang yang memanfaatkan teknologi untuk memurahkan akses malah di sebut pencuri pulsa,, semrawutnya KSO, kisah bagaimana komunitas harus berjuang untuk mendapatkan frekuensi yang bebas digunakan.

Ironis sekali.

Sabtu, Januari 07, 2006

Mandriva ISO CD tips

Sebenarnya tips ini bisa untuk distro apa saja, bukan cuman buat mandriva saja, hanya kebetulan karena saya pengguna (setia) mandriva dari jaman kenal linux sampai sekarang :)

Tips ini digunakan pada cd image/iso file dengan memanfaatkan perintah mount. Awalnya karena saya suka menginstall dengan "newbie mode" alias tidak melakukan kustomisasi di awal installasi, jadi terserah distro saja. Nanti setelah selesai baru mulai saya mulai install sana install sini, un-install sana un-install sini :)).

Satu kali saya lupa cd installasi di rumah.

Untung saya ingat, kalau iso-nya installer di HardDisk belum di hapus. Jadinya saya lakukan adalah:

[root@sphinx irwin]# mount -o loop [..path]Mandriva-Linux-Free-2006-CD1.i586.iso /home/mdk2006/cd1/
[root@sphinx irwin]# mount -o loop [path]Mandriva-Linux-Free-2006-CD2.i586.iso /home/mdk2006/cd2/
[root@sphinx irwin]# mount -o loop [path]Mandriva-Linux-Free-2006-CD3.i586.iso /home/mdk2006/cd3/

kemudian jalankan software media manager, dan masukkan lah mounting path di atas ( /home/mdk2006/cd1 s/d cd3) ke daftar kustom source dan pilih local path. Jangan lupa non-aktifkan media source cd rom.

akan ada error ketika memasukkan kustom source tapi abaikan saja.

Pengembangan lebih lanjut, bisa saja path di atas kita masukkan ke konfigurasi ftp/http server sehingga kita bisa melakukan instalasi mandriva via lokal ftp/http.

Kamis, Desember 29, 2005

LTSP

Minggu ini aku beruntung, dapat pinjaman sebuah P4 3GHz, RAM 1GB , HDD SATA 200Gb. Sudah lama mau mengadakan percobaan apakah bisa kombinasi LTSP + Win2K melayani 15 PC di Lab. Kampus dengan baik. Sebenarnya kombinasi ini bukan hal baru tapi saya tidak berani mencobanya pada server operasional. Bisa pusing kalo ada apa apa :)
Di mesin tersebut aku install:
  • Win2K + Terminal Services
  • Ooo 2.0
  • Firefox
  • NetOp
  • Anti Virus
Distro yang digunakan adalah K12LTSP berbasis Fedora Core 3.

Hasil percobaan menunjukkan beban CPU tertinggi ( 100% ) terjadi pada saat 15 Firefox di launch bersamaan dan langsung membuka google :)) kondisi ini boleh dibilang jarang sekali terjadi. Yang menarik, memori 1GB tidak terpakai penuh walaupun Write di jalankan di semua terminal.

Kesimpulan:
  • Spek mesin di atas, ternyata cukup untuk melayani 15 terminal
  • Butuh 2 Server, 1 untuk LTSP - 1 untuk Win2K
  • Color depth 8 bit tidak masalah, toh Lab lebih banyak digunakan untuk belajar Programming.
  • Di hitung hitung, biayanya murah loh :))
Tapi, kalau mau yang mantap dan murah tentu cukup 1 Server saja: LTSP, color depth bisa 24 bit, no virus threat, no license to pay, no worry lah....

Rabu, Desember 28, 2005

PC Sampah vs Lingkungan Hidup

Di picu pemberitaan di kompas, berjudul Posisi Microsoft, milis awari dan telematika ramai lagi oleh diskusi mengenai PC Sampah vs Lingkungan hidup. Topik ini Selalu menarik. Setiap kubu memiliki alasannya masing masing. Pendukung PC Sampah beralasan kalo masih bisa digunakan dan murah kenapa tidak? Sedang dari sisi kubu Lingkungan Hidup mengatakan bahwa sekali sampah tetaplah sampah.

Tapi satu hal yang perlu di catat adalah: kubu lingkungan hidup selalu bisa memberikan referensi dan (banyak) link untuk memperkuat argumentasi bahwa memang berbahaya jika kita dijadikan tempat sampah besar dari PC Sampah ini. Sementara pendukung PC Sampah argumentasinya tidak lebih dari alasan-alasan bagus terdengar tapi tidak bisa memberikan referensi yang meyakinkan bahwa sudah ada negara yang berhasil dengan program PC Sampah ini.

Dari salah satu link, menjelaskan jika di tahun 1998 saja ada 20 juta PC "tua" di US. Bayangkan tahun 2005 :( . Tentu saja jika ada cara yang praktis membuang sampah ini mengapa tidak?

Apakah kita memang sudah begitu parah mentalnya sehingga tidak punya kemampuan untuk melihat masalah sebenarnya? masalahnya adalah bagaimana supaya rakyat negara ini di perbaiki kemampuan daya belinya sehingga mampu untuk membeli barang baru. Bukan SAMPAH.

Lebih lanjut baca saja link dibawah:

http://www.svtc.org/cleancc/pubs/sayno.htm
http://www.svtc.org/cleancc/pubs/harm.htm
http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/1839997.stm
http://www.informinc.org/fact_CWPcomputer.php
http://www.svtc.org/cleancc/pubs/technotrash.htm