iklan test

Senin, Februari 12, 2007

Angka angka di bisnis warnet Indonesia

Berapa banyak jumlah warnet di Indonesia secara pasti tidak ada yang tahu. Tapi secara kasar, jumlah warnet di Indonesia berada di angka 5000 hingga 6000 buah yang tersebar dari NAD hingga Papua. di milis AWARI sendiri tercatat hingga tanggal 12 Februari 2007 terdapat 7.602 subscriber. Saya sendiri memperkirakan warnet yang bergabung dengan milis AWARI ini tidak lebih dari 50% warnet yang ada di Indonesia.

Meski demikian tetap harus diingat bahwa subcriber di milis terdiri dari berbagai kalangan, baik dari pemilik warnet, Operator warnet, pemerhati perkembangan IT termasuk didalamnya. Mengapa saya ungkap hal ini agar disadari bahwa jumlah subcriber di milis ini tidak mencerminkan jumlah warnet di Indonesia.

Apa yang hendak saya sampaikan adalah: Sebenarnya seberapa besar perputaran uang di dalam bisnis warnet ini? Untuk menghitungnya maka saya menggunakan beberapa asumsi asumsi sederhana sebagai berikut:
  • Jumlah warnet di indonesia: 5000 (plus minus)
  • Rata rata jumlah layar di warnet: 20
  • Rata rata pemakaian bandwidth di tiap warnet:128 Kbps
  • Rata rata memiliki pekerja sebanyak: 4 orang dengan rata rata gaji per pekerja adalah Rp 550.000,-

Berdasarkan asumsi di atas maka:
  • warnet di Indonesia saat ini memiliki layar sejumlah 20 x 5000 = 100.000 layar
  • Total pemakaian bandwidth oleh Warnet: 128 kbps x 5000 = 640.000 kbps = 640 mbps
  • Jika di asumsikan harga 128 kbps adalah Rp 5.500.000, maka belanja bandwidth warnet tiap bulan adalah: Rp 5.500.000 x 5000 = Rp 27.500.000.000 ( Dua puluh tujuh miliar lima ratus juta Rupiah ) sehingga dalam 1 tahun saja total belanja bandwidth warnet se Indonesia mencapai = Rp 330.000.000.000 ( Tiga ratus tiga puluh miliar )
  • Jumlah pekerja yang bekerja di warnet mencapai 4 x 5000 = 20.000 pekerja dan ada 20.000 x Rp 550.000 = Rp 11.000.000.000 ( sebelas miliar ) uang yang diberikan sebagai upah para pekerja tersebut.

Dari angka angka tersebut di atas yang paling menarik di perhatikan adalah belanja bandwidth yang merupakan inti bisnis warnet. Angka tiga ratus tiga puluh miliar per tahun merupakan angka yang cukup besar. Sayang sekali saya tidak memiliki data seberapa besar total jumlah uang yang masuk ke bisnis bandwidth di Indonesia dan belanja bandwidth warnet berapa persen dari total angka tersebut.

Pada dasarnya saya ingin menyampaikan ke rekan rekan warnet, bahwa jika dihitung secara menyeluruh maka angka angka di bisnis warnet sudah merupakan angka yang signifikan. Angka angka di atas adalah kekuatan warnet, akan tetapi kekuatan itu hanya berfungsi jika warnet warnet ini bersatu. Tanpa bersatu maka angka angka di atas akan menjadi pecah, mengecil dan akhirnya hanya merupakan buih di lautan.

catatan:
Tulisan ini juga di muat di blog http://tayuang.blogspot.com dan http://irwinday.wordpress.com . Kritik, saran dan sanggahan silahkan disampaikan via milis atau pun komentar pada blog.

Jumat, Februari 09, 2007

Looking for Perfection

Alkisah seorang bujangan bertemu sobat karib yang sudah berkeluarga. Sang sobat yang prihatin melihat sang bujang yang masih saja membujang akhirnya bertanya:

“Mengapa sampai sekarang kamu masih membujang? Setahuku hari harimu tidak pernah sepi dengan berbagai wanita dan semuanya adalah wanita wanita yang menarik hati”.

Dengan penuh percaya diri sang Bujang berkata: “Aku masih belum menemukan wanita sempurna yang sudah aku impikan seumur hidupku, makanya aku tidak akan berhenti mencari sebelum aku menemukan wanita sempurna itu.”

Sekian tahun kemudian…

Sang sobat karib itu bertemu lagi dengan sang bujang yang ternyata masih juga membujang! Dengan penuh penasaran sang sobat akhirnya menanyakan hal yang sama seperti sekian tahun yang lalu dia ungkapkan:”Mengapa sampai sekarang kamu masih membujang? Setahuku hari harimu tidak pernah sepi dengan berbagai wanita dan semuanya adalah wanita wanita yang menarik hati”. Dengan kalimat tambahan: ” Sudahlah! Berhentilah kamu mencari wanita yang sempurna!”

Dengan bersungut-sungut sang Bujang menjawab dengan muka kusut masai bagai tak mandi satu bulan:” Aku sudah menemukan wanita yang sempurna Sobat!!”

Sobat:” lalu? Kalau kamu sudah menemukannya mengapa kamu masih membujang?”

Bujang:” Si wanita sempurna juga sedang mencari Pria yang sempurna”

IGOS, Open Source dan kata Gratis

Salah satu hal yang menurut saya merupakan kesalahan yang tidak terlihat adalah mengkonotasikan Free Open Source Software sebagai Perangkat Lunak Gratis. Baik dari tanggapan saya terhadap pertemuan aktivis linux di Depok maupun dalam diskusi mengenai IGOS dan Open Source yang berlangsung di milis AWARI yang bertajuk "IGOS.. Merdeka !".

Diskusi yang berawal dari balasan Bpk Kusmayanto Kadiman terhadap Jamil Faisal yang mengajak untuk mengadakan Road Show ke daerah daerah mempromosikan Open Source yang berkembang menjadi diskusi tentang usulan Kang Onno W Purbo yang memimpikan Open Source di masukkan ke dalam Undang Undang. Saya sendiri menggaris bawahi sebuah tanggapan yang mengatakan sebagai berikut:
kalo menurut saya jangan hanya open source.
jangan hanya terbuka..

TAPI JUSTRU HARUS GRATISSSSSSSSSSSSSSSS....

Inilah yang semestinya dihindari dalam kampanye penggunaan Free Open Source Software. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Kata gratis ini juga berkonotasi kurang baik di dunia bisnis, akan sulit menembus dunia bisnis jika kampanye Free Open Source Software di konotasikan gratis. Selain berkonotasi jelek, akan menyulitkan kalangan Free Open Source Software sendiri dalam ber bisnis ke depan ( Tenaga dan pikiran kan tidak gratis! ). Jadi himbauan saya kepada yang aktif ber kampanye dan memperjuangkan Free Open Source Software: Berhentilah menggunakan kata-kata "gratis".

Minggu yang menyebalkan

Kondisi satu minggu ini benar-benar menyebalkan, Jakarta banjir, macet parah, mau naik kendaraan umum susah, bawa kendaraan pribadi lebih susah lagi. Kapan bisa beli heli yah?

Selasa, Februari 06, 2007

Ujian atau Hukuman?

Sewaktu kita masih kecil, setiap kali kita berbuat nakal maka biasanya kita mendapat teguran, baik dimarahin maupun sampai di jewer. Jika kita kapok akan kenakalan kita, maka akibatnya cuma sampai teguran saja.

Bagaimana jika kenakalan kita berlanjut? Tentu hukuman lah yang kita dapat dan bukan cuma sekedar di marahin maupun dijewer, kadang sampai di larang untuk bermain, di pukul pake penggaris (duh!) maupun uang jajan di cancel :P

Intinya, hukuman itu diberikan jika kita berbuat salah berkali kali walaupun sudah ditegur (berkali kali juga).

Berdasarkan analogi teguran dan hukuman di atas, menurut anda Banjir Jakarta kemarin ini teguran atau hukuman?

* Secara pribadi saya menganggapnya sebagai hukuman atas tingkah laku kita yang tidak menghargai alam *

Senin, Februari 05, 2007

Skrinsut Banjir

Skrinsut waktu hari Minggu iseng jalan-jalan keliling Jakarta liat kondisi banjir di Jakarta. Sayang sekali lupa bawa kamera padahal sudah dipersiapkan :( terpaksa pake kamera hp yang cuma 0.3 Megapixel. klik disini

Kamis, Februari 01, 2007

Undangan Mengikuti MUNAS AWARI I

Rekan-rekan.

MUNAS AWARI yang diadakan di Bandung tanggal 10-11 Februari nanti bukan hanya sekedar ajang silaturahmi antar warnetters, tetapi jg bisa menjadi ajang saling membuka bisnis & kerjasama.

Di Lokasi MUNAS akan diadakan pameran / bazaar yang diisi oleh sponsor dan pihak vendor. Panitia menyediakan sekitar (+/-) 20 stand + 1 WARNET AWARI.

Pameran akan berlangsung selama Munas, yaitu selama 2 (dua) hari.

WARNET AWARI adalah Simulasi Warnet LEGAL, didalamnya terdapat PC yang berplatform Propriatery & Open-Source. Bagaimana nanti warnet yg menggunakan platform Windows ASLI tetap Legal dengan program aplikasi yang juga Legal akan bisa dilihat disana. Peserta juga akan melihat bagaimana kinerja Client, Billing & Server PINUX, juga SOLITE dan beberapa Distro lainnya yang cocok untuk WARNET LEGAL.

Sedangkan Stand disediakan untuk pihak vendor & sponsor. Saat ini panitia membuka kepada pihak vendor yang berminat untuk mengisi STAND.
Bagi vendor yang berminat untuk mengisi STAND pada saat penghelatan Munas AWARI 2007 di bandung, dapat menghubungi panitia (by Japri)

Terima kasih

Salam
PANITIA

Syarat menjadi anggota AWARI

Berawal dari posting Hendrian Deddy di milis AWARI dengan judul "Sweeping Warnet Pasca Munas?" diskusi berkembang menjadi dua arah:
1. Diskusi apakah "legalitas perangkat lunak" menjadi syarat untuk menjadi anggota AWARI
2. Diskusi apakah perlu dibedakan antara online games dan warnet

Kedua topik itu sendiri muaranya adalah syarat untuk menjadi anggota AWARI dan berkaitan dengan MUNAS AWARI I yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini di Bandung.

Saya sendiri berpendapat seperti yang saya tulis juga dimilis dengan sedikit perubahan pada konteks:

Model bisnis warnet
Saya mendefinisikan model bisnis warung internet ini menjadi 3 model:
  1. Warnet; model bisnis ini menyediakan PC yang terkoneksi internet dan memberikan akses browsing, messaging ( irc, yahoo messenger, aim, icq ), upload/download file, terminal ( ssh, telnet ).
  2. Warnet + Online Games; model ini memberikan layanan yang sama dengan no. 1 dan tambahan online games.
  3. Online Games/Game center; model ini hanya memberikan layanan online games dan tidak melayani permintaan layanan seperti yang ada di no. 1

Sehingga, saya berpendapat: jika dianggap online games adalah "salah satu" dari layanan seperti pada model no. 2, maka sah-sah saja untuk menjadi anggota AWARI. Namun jika Online games pada akhirnya menjadi "satu-satunya" layanan seperti yang ada pada model bisnis no.3,maka lebih baik dinyatakan sebagai games center dan tidak memenuhi persyaratan sebagai anggota AWARI.


Warnet dan Legalitas
Lain lagi kalo bicara soal legal - ilegal, saya berpendapat bahwa legalitas adalah sesuatu yang wajib untuk setiap pelaku bisnis warnet. Dalam bisnis warnet yang paling sensitif adalah dari sisi Perangkat Lunak. Sepertinya masalah sederhana tapi dalam prakteknya sangat rumit. Dari sisi ini warnet saya bagi atas beberapa kategori soal legalitas:

  1. Mengerti soal legalitas dan mempraktekkan "be legal" secara penuh
  2. Mengerti soal legalitas tapi tidak legal secara penuh sehingga masih 1/2 Legal ( bisa juga disebut 1/2 Ilegal )
  3. Mengerti soal legalitas tapi menolak untuk menjadi legal ( memilih tetap membajak )
  4. Tidak mengerti soal legalitas.

Dari ke empat kategori tersebut maka yang patut di lindungi oleh AWARI
adalah:
No.1, Ini tentu saja wajib dilindungi sebab memenuhi persyaratan dalam hal legalitas
No.2, perlu di arahkan dan dibimbing (oleh AWARI) agar mencapai legalitas penuh.
No.3, adalah urusan Hukum dan Aparat.
No.4, adalah tugas AWARI bersama Komunitas untuk memberikan pengertian
dan bimbingan.

Dengan alasan inilah saya tidak setuju legalitas menjadi syarat ke anggotaan AWARI. Legalitas di awal keanggotaan adalah tujuan, tentu dalam rentang waktu tertentu yang kita bisa bicarakan di MUNAS AWARI I nanti adalah seberapa lama rentang waktu itu. Pendapat ini juga di suarakan oleh Didin Pataka dalam diskusi di subjek tersebut di atas.

Saya sendiri menghimbau rekan rekan warnet supaya mengikuti MUNAS AWARI I di Bandung nanti agar warnet dapat menentukan arah bisnisnya bersama sama dan kekuatan yang berdiri sendiri-sendiri ini dapat disatukan menjadi kekuatan yang besar dan berpengaruh.


Minggu, Januari 28, 2007

Jumat, Januari 26, 2007

Nge Blog di Notebook


Nge blog itu bisa dimana saja. bukan menggunakan ponsel atau notebook, tapi "notebook" dalam arti sesungguhnya ;)

tulisan pada foto di atas bisa di baca di sini : http://irwinday.wordpress.com/

Jumat, Januari 19, 2007

Teori Paman Gober

Alkisah si tokoh yang telah kita kenal baik: Donal Bebek, berniat untuk menjadi seorang pengusaha bunga. Alasan Donal untuk menjadi pengusaha bunga sederhana, dia memiliki tipe bunga yang bagus dan semua yang kerabat terdekatnya seperti Desi bebek sang kekasih, Kwik Kwek dan Kwak sang ponakan dan Professor Lang Ling Lung sang penemu bibit bunga sangat mendukungnya.

Agar cepat laku maka Donal menjual bunga tersebut dengan harga murah dan bungkus seadanya dan menjualnya di pinggir jalan. Namun, walau dengan harga 1000 perak/ikat ternyata bunga-bunga tersebut tidak laku. Sehingga setelah sekian lama berjualan Donal mulai merasa frustasi dan pergi meminta tolong ke kerabat terdekatnya: Paman Gober.

Si Paman, seorang bisnisman yang berhasil mempelajari kisah Donal dan sambil tersenyum dia berkata: "Donal, aku beli semua bungamu dengan harga yang kamu jual sekarang". Donal terperangah dan curiga, apa yang ada di benak Paman ku ini? Tapi, bayangan kerugian yang membayanginya membuatnya tidak ada pilihan lain.

Apa yang Paman Gober lakukan? Sederhana. Semua bunga tersebut dia bungkus dengan baik. Kemudian dibawanya ke Mall, diberinya merek yang bagus dan menjualnya dengan harga 100ribu perak. 10x lebih mahal daripada harga aslinya. Dan ternyata bunganya laku keras.

Dengan tersenyum, sang Paman menasehati keponakannya: Donal, kalau kamu menjual dengan harga murah tidak laku, cobalah kamu jual dengan harga mahal.

Kisah Donal bebek berjualan bunga ini saya baca ketika saya masih SD dan sangat membekas di ingatan saya. Ketika bertemu dengan komunitas Open Source di kantor Menristek, saya juga memberikan pandangan (yang entah diperhatikan atau tidak hehehehe) bahwa komunitas ini harusnya bilang bahwa harga mereka tidak murah :) karena di pandangan Pemerintah harga murah itu "tidak menarik". Seandainya kita berkata biaya migrasi dari ilegal ke Legal menggunakan Open Source juga sekitar 400M, sepertinya MOU tersebut akan hilang dengan sendirinya :)

Dari diskusi dengan orang orang bisnis, saya juga mendapatkan pandangan yang sama: mereka semua pesimis jika penghematan anggaran dan efisiensi diberikan sebagai alasan untuk Pemerintah. "Pemerintah tidak berpikir untuk efisien kok" kata mereka.

Karena itu: saran saya untuk para Pejuang Open Source, mari kita jual mahal, karena kalau di jual murah tidak akan dilirik :)


Kamis, Januari 18, 2007

Cikampek Cipularang

Minggu lalu saya ke Bandung untuk berakhir minggu. Bisa dipastikan saya melalui jalan tol Cikampek Cipularang untuk menuju ke bandung.

Selama perjalanan ini lah saya mencatat beberapa kejadian selama di jalan tol tersebut.

1. Menyalip melalui bahu jalan.

Benar-benar mengerikan melihat mobil-mobil yang dengan kecepatan tinggi menyalip melalui bahu jalan. Dan saya sempat menyaksikan aksi nyaris celaka. Saat itu saya sedang melaju dengan kecepatan 80km/jam di jalur kiri dan melihat dari spion kiri kilauan lampu mobil pertama dengan kecepatan tinggi, saya perkirakan sekitar 100-120km/jam. Di depan saya dengan jarak sekitar 2-3 detik ada sebuah truk sedang disebelah kanan ada sebuah bus dengan kecepatan sama dengan saya. Mobil kedua, sebuah sedan Soluna hijau juga menyusul dengan selang waktu sekitar 1 detik dari mobil pertama ketika saya melihat mobil pertama tersebut tiba tiba melakukan manuver ke kanan mengambil jalur kiri tepat di depan truk yang akhirnya mengerem.

Apa yang membuat mobil pertama ini bermanuver? Dibahu jalan ternyata ada sebuah bis yang berhenti! Mobil pertama lolos, bagaimana dengan si Sedan Soluna? Dia menjadi orang yang paling beruntung hari itu: dengan manuver yang kritis, si sedan langsung mengambil posisi di belakang truk yang sedang mengerem untuk kemudian bermanuver lagi ke jalur kanan (karena ruang untuk mengerem tidak cukup) dengan jarak tidak lebih semeter dari Bus yang saat itu ada di sebelah kanan. Mengerikan.

2. Kendaraan Lambat yang egois

Mengapa mobil-mobil tersebut menggunakan bahu jalan? Salah satunya adalah kebiasaan dari Truk dan Bus yang berjalan lambat dan menguasai jalur yang tersedia. Saya sendiri tergoda untuk melalui bahu jalan namun mengingat resiko yang sangat besar dan saya juga tidak mengejar apa apa akhirnya saya memilih untuk bersabar saja. Para Truk dan Bis yang berjalan lambat ini memang kadang sangat egois, sudah lambat tidak mau mengalah dan memberi jalan ke kendaraan lain yang lebih cepat.

Terasa sekali pas Jalur Cikampek sudah dilewati dan memasuki arah Cipularang saya bisa memacu kendaraan lebih cepat dari rata-rata 70-80 km/jam menjadi 100-120 km/jam :D ya..ya..ya..saya tau, batasnya adalah 100 km/jam ;)

Beberapa hal lainnya yang saya perhatikan adalah kurangnya kesadaran dari pengguna jalan tol bahwa mereka sedang berada di jalan tol :p ada yang mengemudikan kendaraannya seolah-olah angkot kejar setoran dan memaksa untuk menyalip pada kondisi ramai dan padat. Juga sering saya ngeri dengan kendaraan di belakang saya dengan posisi sangat dekat, apa mereka kira bisa menghindar kalau saya tiba-tiba melakukan emergency brake?

Terakhir, yang bikin saya gregetan adalah: Ketika pulang ke Jakarta, sebuah mobil polisi yang mengawal sebuah mobil pejabat (D 41 DS) berjalan dengan kencangnya di BAHU JALAN!!! Gila benar ini polisi, apa dia nggak mengerti kalau bahu jalan itu hanya untuk keperluan EMERGENCY????

Kamis, Januari 11, 2007

Komisi I DPR Tuntut Pembatalan MoU RI - Microsoft

Rupanya skandal MOU ini mulai masuk babak baru, kali ini Komisi I DPR ikutan bersuara.

http://detikinet.com/

Rabu, Januari 10, 2007

Jangan sakit, kecuali...


Foto di atas di ambil di pemakaman karet, 2 hari yang lalu. Yang meninggal adalah saudara laki laki dari seorang staff Keuangan di kantor kami, disebabkan oleh stroke. Profesi beliau adalah seorang supir di sebuah perusahaan swasta. Yang menarik adalah: ternyata beliau sakit sudah cukup lama dan perusahaan menanggung semua (ya, semuanya tanpa terkecuali) biaya perawatan yang menurut info dari pihak keluarga mencapai ratusan juta rupiah. Selain itu, gaji dan tanggungan lain tetap di bayarkan oleh perusahaan.

Salut buat perusahaan tersebut, terlihat bagaimana mereka sangat menghargai pegawai mereka.

Selasa, Januari 09, 2007

Kesiapan Open Source dan Sensus Software Ilegal

Ada 2 point yang menarik untuk disimak dari pernyataan Menkominfo Bapak Sofyan Djalil di dalam wawancara beliau di Majalah Tempo.

  1. Open Source belum siap untuk digunakan
  2. Pemerintah (menkominfo? ) akan melakukan sensus software ilegal di lembaga pemerintah.

2 point ini yang menjadi perhatian utama saya, karena kedunya menunjukkan bagaimana karakter Bangsa kita yang tercermin dari perilaku pejabat-pejabat negara kita.

1. Open Source belum siap digunakan

Ketika bekerja di sebuah perusahaan asing sekian tahun yang lalu ada satu kejadian yang membekas di benak saya. Pada satu waktu departemen kami diminta untuk merancang sebuah sebuah jaringan, alhasil kami pun merancang dan mengajukan rancangan kami ke atasan (yang bukan berlatar belakang IT). Apa yang dilakukan atasan kami cukup mengherankan saya, yaitu dia bertanya kepada koleganya (sebangsa dan setanah air Jerman) yang nota bene bukan orang IT juga. Untuk sesaat saya merasa "panas", orang ini kok aneh, tim kami yang notabene keahliannya di bidang ini kok malah minta second opinion dari orang yang keahliannya gak berhubungan sama sekali.

Tapi, kejadian itu bukanlah yang pertama. Bahkan saya menemukan kejadian tersebut berkali kali dalam berbagai kondisi. Intinya: mereka sangat percaya kepada koleganya yang sebangsa dan seTanah Air. Dalam pemilihan perangkat juga begitu. Kadang saya protes, kenapa saya harus menggunakan perangkat dari Jerman yang mahal dan sulit didapatkan itu? Jawaban mereka: karena duit-nya akan masuk ke perusahaan itu juga akhirnya, jadi biar mahal tidak apa apa toh cuma pindah dari kantong sebelah kiri ke kantong sebelah kanan.

Sekarang mari kita lihat karakter tersebut dan bandingan dengan karakter bangsa kita yang tercermin dari wawancara Menkominfo Sofyan Djalil: beliau mengatakan Open Source belum siap untuk digunakan. Oke Bapak Menteri, jadi rupanya Bapak lebih percaya kepada Redmond daripada MenRistek yang sudah susah payah membuktikan bahwa Open Source itu layak pakai.

Saya bisa merasakan perasaan Menristek dengan pernyataan Pak Sofyan Djalil. Kalau itu yang mengatakan orang lain masih mendingan, namun ini dikatakan oleh rekan sesama menteri yang seharusnya ikut mendorong dan bukan malah bikin pernyataan perangkat lunak yang sudah digunakan secara meluas sebagai tidak siap pakai.

Pemerintah lebih suka mengeluarkan 400 miliar untuk bayar perusahaan asing daripada membiayai anak negeri sendiri untuk mengembangkan perangkat lunak Open Source hingga "layak pakai" lebih banyak disebabkan karakter lebih percaya kepada pihak asing ini.

Kenapa saya mengatakan karena karakter? Sebab kalau saya katakan bahwa dibalik MOU itu adalah "komisi", "perselingkuhan" ataupun "tekanan asing" saya tidak punya bukti. Tapi saya dapat melihat karakter yang saya sebut sebelumnya diperlihatkan oleh mereka yang berada dibalik MOU tersebut.

2. Sensus Software Ilegal di Pemerintah.

Nah ini dia pernyataan menarik lainnya dari wawancara di Majalah Tempo: pemerintah akan melakukan sensus terhadap penggunaan perangkat lunak ilegal (baca: bajakan) di lembaga pemerintahan. Mengapa menarik, sebab kesimpulan dari pernyataan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pemerintah mengakui telah melakukan pembajakan piranti lunak ( kalo tidak, buat apa di sensus?)
  2. Hukum ternyata tidak berlaku untuk Pemerintah, tidak seperti rakyatnya yang sejak 2 tahun terakhir ini dihantui sweeping perangkat lunak bajakan.

Untuk kesimpulan No. 1, maka masukan bagi KPK adalah: tolong periksa secara seksama semua Anggaran yang berhubungan dengan sistem komputer, jika didalamnya sudah mencakup pembiayaan untuk perangkat lunak dan tetap terjadi pembajakan berarti ada dugaan korupsi telah terjadi.

Untuk kesimpulan No. 2, saya tidak tahu harus berkata apa. Sebagai saksi bagaimana represifnya penegakan UU Haki di Warnet (yang berujung bangkrutnya beberapa warnet) ternyata Pemerintah lupa membersihkan dirinya sendiri. Bahkan lebih hebat lagi: Dengan bangga mau membayar (uang rakyat tuh!! x-( ) ber miliar miliar dengan alasan dapat diskon. Yah, semut di seberang terlihat dan diinjak-injak, gajah di pelupuk mata perlu disensus dulu.

Di akhir tulisan ini, sekali lagi saya tekankan bahwa persoalan ini bukan semata-mata urusan Microsoft vs Open Source seperti yang di tenggarai oleh beberapa orang yang di anggap sebagai tokoh-tokoh IT, tapi dimensi persoalan ini lebih jauh dari itu. MOU ini membuka mata kita bahwa Hukum tidak berlaku sama untuk semua orang di negeri ini yang aparatnya tetap ngotot berkata bahwa negeri ini adalah negeri hukum. MOU ini juga membuka mata kita bagaimana karakter lebih percaya kepada orang asing adalah karakter mendasar bangsa kita. Setelah menyebutkan point-point di atas masihkah berani menyebut kami Pahlawan Kesiangan? kalau masih, mungkin saya perlu belajar lagi apa arti sesungguhnya dari Nasionalisme.

Senin, Januari 08, 2007

Posting pertama di 2007

Selamat Tahun Baru 2007,

Kejadian gempa Taiwan membuat saya tak bisa mengakses blogger berhari hari hingga tak bisa meng'update' blog ini. Menyebalkan memang, ketika menyadari hidup ini bergantung kepada sesuatu yang tidak bisa diandalkan, seperti koneksi internet.

Tapi sudahlah, lupakan saja soal ketergantungan internet. Toh saya tidak sendiri dalam hal seperti ini. Mari sambut tahun baru ini dengan Optimisme. Semoga tahun ini kehidupan ber internet lebih baik dari tahun tahun sebelumnya. Dan semoga biaya makin turun dan kecepatan semakin naik ;)

Salam,
Irwin

Rabu, Desember 20, 2006

Memorandum of Understanding

Dari wikipedia.org:

A memorandum of understanding
(MOU) is a legal document describing a bilateral agreement between parties. It expresses a convergence of will between the parties, indicating an intended common line of action, rather than a legal commitment. It is a more formal alternative to a gentlemen's agreement, but generally lacks the binding power of a contract.


Mind the last Sentences: generally lacks the binding power of a contract

Jadi soal MOU Pemerintah dan MS? Batalkan sajalah, kontrak aja bisa di batalkan, apalagi MOU. Dan MOU itu berkesan ditutup-tutupi dan penuh dengan kerahasiaan. Hey! God is watching guys!

Tapi saya heran, kok media yang nulis itu cuma sedikit yah. Mana nih media besar lain? Apa karena sudah tanda tangan MOU Iklan? Padahal ini isunya sensitif, perjanjian ratusan miliar tanpa lewat tender :)

Senin, Desember 18, 2006

CCTV di warnet

Melihat perkembangan kasus kematian Alda, saya tertarik dengan terlibatnya bukti rekaman CCTV. Disini sangat jelas bagaimana sebenarnya fungsi sebuah Sistem CCTV. Namun, kembali ke kasus CCTV di warnet, apakah sudah perlu seperti di hotel-hotel atau tempat publik lainnya?

Kesadaran untuk memasang CCTV ini harusnya muncul dari diri pemilik warnet dan kepentingannya terhadap warnet tersebut. Jika warnet tersebut tergolong besar dengan jumlah komputer di atas 50-an memang ada baiknya untuk memikirkan sebuah sistem cctv yang mampu merekam berbagai kejadian yang terjadi di warnet tersebut. Sehingga jika ada kejadian yang tidak di inginkan bisa di analisa dari hasil rekaman tersebut.

Hal yang paling berpengaruh adalah: Sistem CCTV dengan kemampuan yang baik itu tidak murah.

Rabu, Desember 06, 2006

Antrian di Busway ( screen shots )

Screen Shots antrian di halte busway Blok M pagi ini




Selasa, Desember 05, 2006

IGOS Nusantara

Acaranya dimulai jam 14:00, dan banyak makan-makannya, enak lagi, yang ga sempat hadir nyesel deh :)) . Di bagi-bagiin CD IGOS Nusantara tapi belum sempat nyobain. Ada livecd-nya, jadi ga perlu install.

Mudah-mudahan berlanjut dengan jumlah instalasi yang signifikan di komputer-komputer milik pemerintah yah, jangan berhenti di seremonial saja.

mikir dah skarang... Mandriva 2007, Ubuntu 6.10 atau IGOS Nusantara?