Apakah ada diantara pengguna mybloglog yang mengalami hal yang sama? Saya sih sudah frustasi dan memutuskan untuk tidak peduli lagi. Terserahlah, mo bagus ato nggak mybloglog ini.
dibawah ini urutan screen shot nya:


Rekan-rekan Warnet Yth,
Asosiasi Warung Internet Indonesia akan mengadakan Halal Bi Halal yang Insya Allah akan di lakukan pada:
Diharapkan para Anggota dan Non-anggota yang berkesempatan dapat hadir
mengingat di Acara ini selain merupakan sarana Silatuhrahmi antar Warnet, dari AWARI akan membicarakan point penting mengenai pendirian Koperasi AWARI yang rencananya akan dideklarasikan di Acara Halal bi Halal tersebut.
Agenda Acara Halal bi Halal:
bagi yang berminat hadir di mohon untuk mengirimkan email dengan subject “[KONFIRMASI]” ke register_at_awari.or.id atau menghubungi nomer telepon sekretariat AWARI di 021-715 15 122
Salam AWARI,
Irwin Day
Ketua Umum
http://awari.or.id

Pada hari Kamis 12 Juli 2007 saya di minta mewakili Awari dalam acara Round Table Discussion di MGK Kemayoran. Setelah berkonsultasi dengan sesama Pengurus Awari, akhirnya saya memutuskan untuk membawakan presentasi mengenai angka dan statistik warnet Indonesia.
Melihat angka-angka di dalam presentasi ini mungkin terasa cukup bombastis, namun angka itu muncul tidak begitu saja, namun berdasarkan forecasting dari perkembangan dunia internet di Indonesia. Sebagian angka itu memang sulit didapatkan Pemerintah karena banyak pelaku bisnis internet di Indonesia yang tidak tercatat kegiatannya disebabkan sulitnya mereka masuk ke dalam tatanan industri.
Presentasi tersebut dapat di download di situs Awari dan tersedia dalam format .odp dan .pdf
dear rekan
Setelah lama berpikir-pikir, akhirnya saya memutuskan untuk memisahkan isi blog di blogspot.com dan blog di wordpress.com. Ini juga terinspirasi oleh saran dari Budi Putra mengenai perlunya sebuah blog untuk mengkhususkan diri Adapun keputusannya: blog di blogspot akan berisi hal hal yang umum ( lho, gak khusus dong
) sedang blog di wordpress.com topiknya akan saya khususkan untuk isu, opini, artikel warnet, internet dan FOSS.
Semoga dengan pemisahan topik ini yang mengakses blog juga lebih tahu harus ke (blog) mana jika hendak mencari sebuah topik yang telah saya tuliskan sebelumnya.

Wah... jadi ragu mau ikutan :(


Asosiasi Warnet Indonesia mengadakan Musyawarah Nasional I pada:
Semua informasi mengenai Munas AWARI 1 ini dapat di lihat di : http://awari.or.id
Alkisah seorang bujangan bertemu sobat karib yang sudah berkeluarga. Sang sobat yang prihatin melihat sang bujang yang masih saja membujang akhirnya bertanya:
“Mengapa sampai sekarang kamu masih membujang? Setahuku hari harimu tidak pernah sepi dengan berbagai wanita dan semuanya adalah wanita wanita yang menarik hati”.
Dengan penuh percaya diri sang Bujang berkata: “Aku masih belum menemukan wanita sempurna yang sudah aku impikan seumur hidupku, makanya aku tidak akan berhenti mencari sebelum aku menemukan wanita sempurna itu.”
Sekian tahun kemudian…
Sang sobat karib itu bertemu lagi dengan sang bujang yang ternyata masih juga membujang! Dengan penuh penasaran sang sobat akhirnya menanyakan hal yang sama seperti sekian tahun yang lalu dia ungkapkan:”Mengapa sampai sekarang kamu masih membujang? Setahuku hari harimu tidak pernah sepi dengan berbagai wanita dan semuanya adalah wanita wanita yang menarik hati”. Dengan kalimat tambahan: ” Sudahlah! Berhentilah kamu mencari wanita yang sempurna!”
Dengan bersungut-sungut sang Bujang menjawab dengan muka kusut masai bagai tak mandi satu bulan:” Aku sudah menemukan wanita yang sempurna Sobat!!”
Sobat:” lalu? Kalau kamu sudah menemukannya mengapa kamu masih membujang?”
Bujang:” Si wanita sempurna juga sedang mencari Pria yang sempurna”
kalo menurut saya jangan hanya open source.
jangan hanya terbuka..
TAPI JUSTRU HARUS GRATISSSSSSSSSSSSSSSS....

Minggu lalu saya ke Bandung untuk berakhir minggu. Bisa dipastikan saya melalui jalan tol Cikampek Cipularang untuk menuju ke bandung.
Selama perjalanan ini lah saya mencatat beberapa kejadian selama di jalan tol tersebut.
1. Menyalip melalui bahu jalan.
Benar-benar mengerikan melihat mobil-mobil yang dengan kecepatan tinggi menyalip melalui bahu jalan. Dan saya sempat menyaksikan aksi nyaris celaka. Saat itu saya sedang melaju dengan kecepatan 80km/jam di jalur kiri dan melihat dari spion kiri kilauan lampu mobil pertama dengan kecepatan tinggi, saya perkirakan sekitar 100-120km/jam. Di depan saya dengan jarak sekitar 2-3 detik ada sebuah truk sedang disebelah kanan ada sebuah bus dengan kecepatan sama dengan saya. Mobil kedua, sebuah sedan Soluna hijau juga menyusul dengan selang waktu sekitar 1 detik dari mobil pertama ketika saya melihat mobil pertama tersebut tiba tiba melakukan manuver ke kanan mengambil jalur kiri tepat di depan truk yang akhirnya mengerem.
Apa yang membuat mobil pertama ini bermanuver? Dibahu jalan ternyata ada sebuah bis yang berhenti! Mobil pertama lolos, bagaimana dengan si Sedan Soluna? Dia menjadi orang yang paling beruntung hari itu: dengan manuver yang kritis, si sedan langsung mengambil posisi di belakang truk yang sedang mengerem untuk kemudian bermanuver lagi ke jalur kanan (karena ruang untuk mengerem tidak cukup) dengan jarak tidak lebih semeter dari Bus yang saat itu ada di sebelah kanan. Mengerikan.
2. Kendaraan Lambat yang egois
Mengapa mobil-mobil tersebut menggunakan bahu jalan? Salah satunya adalah kebiasaan dari Truk dan Bus yang berjalan lambat dan menguasai jalur yang tersedia. Saya sendiri tergoda untuk melalui bahu jalan namun mengingat resiko yang sangat besar dan saya juga tidak mengejar apa apa akhirnya saya memilih untuk bersabar saja. Para Truk dan Bis yang berjalan lambat ini memang kadang sangat egois, sudah lambat tidak mau mengalah dan memberi jalan ke kendaraan lain yang lebih cepat.
Terasa sekali pas Jalur Cikampek sudah dilewati dan memasuki arah Cipularang saya bisa memacu kendaraan lebih cepat dari rata-rata 70-80 km/jam menjadi 100-120 km/jam :D ya..ya..ya..saya tau, batasnya adalah 100 km/jam ;)
Beberapa hal lainnya yang saya perhatikan adalah kurangnya kesadaran dari pengguna jalan tol bahwa mereka sedang berada di jalan tol :p ada yang mengemudikan kendaraannya seolah-olah angkot kejar setoran dan memaksa untuk menyalip pada kondisi ramai dan padat. Juga sering saya ngeri dengan kendaraan di belakang saya dengan posisi sangat dekat, apa mereka kira bisa menghindar kalau saya tiba-tiba melakukan emergency brake?
Terakhir, yang bikin saya gregetan adalah: Ketika pulang ke Jakarta, sebuah mobil polisi yang mengawal sebuah mobil pejabat (D 41 DS) berjalan dengan kencangnya di BAHU JALAN!!! Gila benar ini polisi, apa dia nggak mengerti kalau bahu jalan itu hanya untuk keperluan EMERGENCY????

Ada 2 point yang menarik untuk disimak dari pernyataan Menkominfo Bapak Sofyan Djalil di dalam wawancara beliau di Majalah Tempo.
2 point ini yang menjadi perhatian utama saya, karena kedunya menunjukkan bagaimana karakter Bangsa kita yang tercermin dari perilaku pejabat-pejabat negara kita.
1. Open Source belum siap digunakan
Ketika bekerja di sebuah perusahaan asing sekian tahun yang lalu ada satu kejadian yang membekas di benak saya. Pada satu waktu departemen kami diminta untuk merancang sebuah sebuah jaringan, alhasil kami pun merancang dan mengajukan rancangan kami ke atasan (yang bukan berlatar belakang IT). Apa yang dilakukan atasan kami cukup mengherankan saya, yaitu dia bertanya kepada koleganya (sebangsa dan setanah air Jerman) yang nota bene bukan orang IT juga. Untuk sesaat saya merasa "panas", orang ini kok aneh, tim kami yang notabene keahliannya di bidang ini kok malah minta second opinion dari orang yang keahliannya gak berhubungan sama sekali.
Tapi, kejadian itu bukanlah yang pertama. Bahkan saya menemukan kejadian tersebut berkali kali dalam berbagai kondisi. Intinya: mereka sangat percaya kepada koleganya yang sebangsa dan seTanah Air. Dalam pemilihan perangkat juga begitu. Kadang saya protes, kenapa saya harus menggunakan perangkat dari Jerman yang mahal dan sulit didapatkan itu? Jawaban mereka: karena duit-nya akan masuk ke perusahaan itu juga akhirnya, jadi biar mahal tidak apa apa toh cuma pindah dari kantong sebelah kiri ke kantong sebelah kanan.
Sekarang mari kita lihat karakter tersebut dan bandingan dengan karakter bangsa kita yang tercermin dari wawancara Menkominfo Sofyan Djalil: beliau mengatakan Open Source belum siap untuk digunakan. Oke Bapak Menteri, jadi rupanya Bapak lebih percaya kepada Redmond daripada MenRistek yang sudah susah payah membuktikan bahwa Open Source itu layak pakai.
Saya bisa merasakan perasaan Menristek dengan pernyataan Pak Sofyan Djalil. Kalau itu yang mengatakan orang lain masih mendingan, namun ini dikatakan oleh rekan sesama menteri yang seharusnya ikut mendorong dan bukan malah bikin pernyataan perangkat lunak yang sudah digunakan secara meluas sebagai tidak siap pakai.
Pemerintah lebih suka mengeluarkan 400 miliar untuk bayar perusahaan asing daripada membiayai anak negeri sendiri untuk mengembangkan perangkat lunak Open Source hingga "layak pakai" lebih banyak disebabkan karakter lebih percaya kepada pihak asing ini.
Kenapa saya mengatakan karena karakter? Sebab kalau saya katakan bahwa dibalik MOU itu adalah "komisi", "perselingkuhan" ataupun "tekanan asing" saya tidak punya bukti. Tapi saya dapat melihat karakter yang saya sebut sebelumnya diperlihatkan oleh mereka yang berada dibalik MOU tersebut.
2. Sensus Software Ilegal di Pemerintah.
Nah ini dia pernyataan menarik lainnya dari wawancara di Majalah Tempo: pemerintah akan melakukan sensus terhadap penggunaan perangkat lunak ilegal (baca: bajakan) di lembaga pemerintahan. Mengapa menarik, sebab kesimpulan dari pernyataan tersebut adalah sebagai berikut:
Untuk kesimpulan No. 1, maka masukan bagi KPK adalah: tolong periksa secara seksama semua Anggaran yang berhubungan dengan sistem komputer, jika didalamnya sudah mencakup pembiayaan untuk perangkat lunak dan tetap terjadi pembajakan berarti ada dugaan korupsi telah terjadi.
Untuk kesimpulan No. 2, saya tidak tahu harus berkata apa. Sebagai saksi bagaimana represifnya penegakan UU Haki di Warnet (yang berujung bangkrutnya beberapa warnet) ternyata Pemerintah lupa membersihkan dirinya sendiri. Bahkan lebih hebat lagi: Dengan bangga mau membayar (uang rakyat tuh!! x-( ) ber miliar miliar dengan alasan dapat diskon. Yah, semut di seberang terlihat dan diinjak-injak, gajah di pelupuk mata perlu disensus dulu.
Di akhir tulisan ini, sekali lagi saya tekankan bahwa persoalan ini bukan semata-mata urusan Microsoft vs Open Source seperti yang di tenggarai oleh beberapa orang yang di anggap sebagai tokoh-tokoh IT, tapi dimensi persoalan ini lebih jauh dari itu. MOU ini membuka mata kita bahwa Hukum tidak berlaku sama untuk semua orang di negeri ini yang aparatnya tetap ngotot berkata bahwa negeri ini adalah negeri hukum. MOU ini juga membuka mata kita bagaimana karakter lebih percaya kepada orang asing adalah karakter mendasar bangsa kita. Setelah menyebutkan point-point di atas masihkah berani menyebut kami Pahlawan Kesiangan? kalau masih, mungkin saya perlu belajar lagi apa arti sesungguhnya dari Nasionalisme.
Rekan2 warnetters.....Lewat YM, si Taufik mengatakan jika peminat membludak. Baguslah :) mengingat salah satu syarat untuk mengikuti program ini adalah: warnet harus terdaftar menjadi anggota resmi AWARI.
AIR ASIA sebagai airline yg menggunakan konsep sistem billing online
sehingga menjadikannya sebagai Low Cost Airlines selalu menggunakan
koneksi internet untuk sistem pembelian tiket para penumpangnya.
Sebagai pengalaman, di warnet saya rata2 terjadi transaksi pembelian
tiket AIR ASIA (data print web booking ticket) dalam sebulan sekitar
10 kali. Dengan adanya kerjasama ini kemungkinan besar akan terjadi
peningkatan lagi karena penumpang dapat membeli tiket murah TANPA
KARTU KREDIT (tidak seperti yg dilakukan pada ticketing online).
Sehubungan dengan hal tersebut, AIR ASIA INDONESIA (AAI) dalam
pembicaraan terakhir dengan Presidium AWARI (bunda JMS) menawarkan
Warnet Anggota AWARI sebagai "Ticketing Resseller". Dalam hal ini
pihak AAI akan mendata seberapa banyak peminat Warnet AWARI yang akan
ikut ambil bagian dalam bisnis ini.
Bagi Warnet yang berminat, bisa japri saya dengan mencantumkan :
- Nama Warnet.
- Alamat.
- Pemilik.
- Jumlah PC.
- Koneksi yg digunakan.
Data ini akan diberikan untuk menindaklanjuti adanya kerjasama ini,
dengan demikian warnetters dapat menggunakan bisnis warnet ini lebih
optimal.